Jangankan rakyat, saya juga begitu. Tapi sekarang, saya ada di posisi yang dinilai. Kemarin kita menilai, kemarin kita komentarin, sekarang saya ada di posisi yang dinilai dan dikomentarin sama orang. Artinya apa? Ketika gue dulu komentarin nggak suka ini nggak suka itu, ya gue jangan lakuin itu lah. Ini pertanggungjawaban gue secara personal.
Bener mas, bisa amanah?
Bos gue pertama itu langsung Allah, habis itu baru rakyat, lalu partai. Itu kan sesuatu yang bukan mainan. Makanya kenapa gue bilang ini musibah. Hanya orang-orang gila yang mau menjadi pemimpin.

Kenapa kok Mas Ronal punya pandangan seperti itu?
Di keyakinan gue, di Islam, pemimpin dihisab pertama dan paling lama. Pemimpin yang adil tadi, aksesnya langsung masuk, kebanyakan cepat. Tapi ada satu aja warganya yang nggak bisa makan, neraka nanti loh. Gue tuh udah banyak dosa. Jadi aduh, ini ada begini.
Makanya tanpa harus dikomentarin, diingatkan, dikritik, kesadaran itu udah ada dalam diri gue, bahwa gue nggak mau, sangat tidak mau menjadi pemimpin yang zalim, pemimpin seperti yang selama ini gue nggak suka. Gue nggak mau menjadi orang yang akhirnya menjadi seseorang yang dulu gue pernah nggak suka.
Berarti nanti prinsip ini juga yang mau Mas Ronal bawa ke Pilkada Jawa Barat?
Ya mungkin kelebihan gue itu, gue bersih. Gue bukan birokrat. Gue seniman. Silakan cari track record gue. Apa gue ada kasus korupsi? Ya nggak mungkin ada lah. Gue nggak main anggaran, nggak main proyek. Gue bekerja, dibayar, dapet duit. Nggak kerja, nggak dapet duit. Makanya kalau misalnya mau memilih pemimpin yang bersih ya, kalau pengin punya pemimpin yang bersih, dimulai lah dengan memilih pemimpin yang bersih pada saat Pilkada
Mas Ronal udah siap ya berarti?
Baca Juga: Ditunjuk PDIP Jadi Cawagub Jabar, Ronal Surapradja: Ikhlas Bikin Naik Level
Harus siap. Udah masuk, udah nyemplung. Harus siap. Bismillahirrahmanirrahim, siap.