Pinjol Ilegal Tumbuh Subur, Bukti Literasi dan Inklusi Keuangan Orang RI Timpang

Minggu, 06 Oktober 2024 | 12:22 WIB
Pinjol Ilegal Tumbuh Subur, Bukti Literasi dan Inklusi Keuangan Orang RI Timpang
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah gencar melakukan tindakan tegas terhadap pinjaman online (pinjol) ilegal, praktik ini masih terus mengintai masyarakat. (foto tangkapan layar)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Meskipun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah gencar melakukan tindakan tegas terhadap pinjaman online (pinjol) ilegal, praktik ini masih terus mengintai masyarakat.

Modus operandi yang semakin canggih dan iming-iming keuntungan cepat membuat banyak orang terjebak dalam jerat utang yang sulit dilepaskan.

Para korban pinjol ilegal kerap mengalami berbagai masalah, mulai dari penagihan yang tidak manusiawi, bunga yang sangat tinggi, hingga ancaman kekerasan. Hal ini tentu saja sangat merugikan dan mengganggu stabilitas keuangan masyarakat.

Lantas apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk menghindari jeratan pinjol ilegal ini? Untuk menjawabnya Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Frederica Widyasari Dewi secara tuntas akan membahasnya dalam acara Kerjasama PP KAGAMA dan Suara.com, PodKagama Episode #9 yang dipandu oleh Iwan Hermawan, EVP Perencanaan Jalan Tol Hutama Karya.

Berikut petikan wawancaranya:

Seberapa tinggi orang Indonesia yang paham akan literasi keuangan?

Kita bikin survei bekerja sama dengan BPS, kita melihat bahwa tingkat literasi masyarakat kita di keuangan itu sekitar 65%. Artinya gampangannya mungkin kalau dari 100 orang yang kita tanya 65-nya tuh udah paham atau mungkin 10 orang 6 sampai 7 orang itu paham gitu ya kira-kira begitu.

Kalau inklusinya seberapa tinggi?

Inklusinya sekitar 75% Jadi kalau dari 10 orang yang kita tanya 7 sampai 8 orang itu sudah pakai produk jasa keuangan. Nah kalau kita lihat kan masih ada gap tuh Mas bahwa orang yang menggunakan kok lebih gede daripada orang yang ngerti ya ada gap. Itu yang artinya banyak loh orang masyarakat kita yang pakai produk jasa keuang tapi enggak paham sebenarnya.

Baca Juga: Pembiayaan Kredit Kendaraan Listrik Tembus Rp29 Triliun Hingga Agustus 2024

Apa bahayanya?

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI