Berawal dari Anak Desa, Harda Kiswaya Berhasil jadi Sekda dan Bersiap Maju di Pilkada Sleman

Kamis, 28 Maret 2024 | 16:54 WIB
Berawal dari Anak Desa, Harda Kiswaya Berhasil jadi Sekda dan Bersiap Maju di Pilkada Sleman
Mantan Sekda Sleman, Harda Kiswaya saat diwawancarai di rumahnya Godean, Sleman. (YouTube/Suaradotcom)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Saya amat sangat ingat sekali pada saat saya menunaikan ibadah haji. Saya diingatkan oleh Allah untuk bagaimana saya bisa melayani masyarakat dengan baik dan plus motivasi yang amat sangat kuat itu bapak saya sebelum meninggal didampingi si mbok (ibu) saya ngulangi kalimat saat saya awal awal masuk pemda, 'Do aku seneng koe kerjo ning pemda, Aku juga ngelingke koe nek bermanfaat bagi wong okeh anakmu wis dipikirke karo Gusti Allah' (Do aku senang kamu kerja di pemerintah. Aku juga mau ingatkan ke kami kalau kamu bermanfaat untuk orang banyak, anakmu sudah dipikirkan Gusti Allah). Dan alhamdulillah yang disarankan bapak, simbok saya itu betul-betul terwujud sekarang ini sampai-sampai saya didorong untuk maju (Pemilihan Umum) bupati.

Itu mungkin masyarakat menilai apa ya kesungguhan saya keikhlasan saya men-support masyarakat bagaimana permasalahan dan masalah yang ada bisa diselesaikan.

Bapak berangkat dari lingkungan desa, sampai-sampai disebut-sebut 'Bapake Wong Sleman', bagaimana tanggapannya?

Subhanallah maha suci Allah keberhasilan saya di Pemda dinilai baik oleh masyarakat, namun kalau dinilai baik itupun karena Allah bukan karena saya. Saya hanya menjalankan segala perintah agama yang saya yakini kemudian saya menjalankan amanahnya pemerintah, bagaimana melayani masyarakat dengan baik karena saya enggak pernah membeda-bedakan siapapun itu ke saya pasti saya terima.

Kemarin mau pensiun juga penuh yang datang. Jadi apa ya, ya sekali lagi makanya ini bisa untuk sharing kepada siapapun kepada masyarakat, kalau kita menghormati orang, balasan Allah akan lebih banyak lagi, akan lebih besar lagi, saya hanya menanyakan itu saja.

Akhirnya bapak melanjutkan ke politik dan bakal maju di Pilkada Bupati Sleman, apa yang mendasari untuk terjun ke sana?

Insya Allah memang akan maju di perhelatan Pilkada 2024, tapi hanya untuk Sleman Satu oke, karena hanya dengan Sleman Satu itu kita bisa mengoptimalkan segala kebijakan saya, sehingga untuk mensejahterakan masyarakat bisa dilakukan.

Memang ada sebuah peristiwa yang menggugah saya yang menginspirasi saya kenapa saya pingin maju ke Sleman Satu. Pertama ada sebuah peristiwa waktu itu saya masih kepala BKD nah saya disambati (dikeluhkan) oleh salah satu tokoh masyarakat di Prambanan atas sana kalau kekurangan air pada waktu itu kemarau, kebetulan ada peristiwa air yang dipompa ke atas itu ada masalah dengan masyarakat yang di bawah. Nah kemudian teman saya yang di Prambanan itu bilang 'pak Aku datang ke BKD pak, aku digolekke banyu, jaluke sopo terserah, kekurangan banyu' (pak aku ke BKD ini minta dicarikan air. Minta ke siapa terserah karena warga kita kekurangan air). Namanya Pak Prawoto itu, terus oh ya saya menghubungi rekan saya notaris paguyuban notaris. Alhamdulillah tahun itu saya lupa tahunnya, tapi saya masih Kepala BKD mendapat 192 tangki untuk dropping ke atas 92 atau 199 itu, antara pakai 92 itu karena peristiwa udah cukup lama.

Nah waktu seremonial, kan saya ajak Pak Bupati (Sri Purnomo) yang menerima biar beliau apapun yang kerja anak buah tapi kan bupati itu, karena sebagai bentuk penghormatan kepala wilayah.

Nah saya melihat sebuah peristiwa yang betul-betul saya bikin nangis. Ada nenek-nenek yang saya tanyai, jalannya 2 km dari rumah hanya membawa gendong klenting itu tempat air dari tanah liat itu, sudah agak bongkok jalannya dua kilometer. Saya pikir, kemarau itu akibatnya setahu saya mohon maaf ini di Gunungkidul saja karena bebatuan, lha kok di Sleman ada ya, saya betul-betul nangis, terus saya berusaha bergumulan dalam hati saya saya merasa berdosa nih saya jadi pejabat seiman kok ada kayak gini peristiwanya. Betul-betul nangis saya mbrebes mili saya itu kalau melihat hal yang ketimbangan saya mesti nangis, saya pernah ada pulang rapat tak selingi sebentar pulang rapat saya itu bawa nasi yang untuk rapat itu di keronggaan itu ada orang yang minta-minta tak kasih saya nggak tahu tiba-tiba saya pengen diapakan ya nasi yang tak serahkan itu. Dia langsung jalan ke pojok ke selatan pojok selatan itu saya tertarik untuk mengikuti, saya enggak langsung ke kanan tapi saya minggir kemudian saya melihat dia makan itu wah kayaknya enak banget Aku saat itu nangis. Kenapa di kantor (kotak makan) itu paling mung dipilih lawuh e nasine dibuang (dipilih nasinya, lauknya dibuang) dan sebagainya neng kok neng di sebelahku masih ada orang yang seperti itu.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI