Mahasiswa kemudian nggak puas kalau kami hanya di radio. Akhirnya minta kami ke acara, sampai akhirnya umum dan dibuatkan kabaret sama suaminya Titiek Puspa.
Apa sih isi materi dari Warkop DKI, apa terus memberikan kritik kepada pemerintah?
Ya jokes kami yang menyindir. Soal apa, ya saya lupa. Kami kan makin banyak penggemar, sehingga dipandang bahaya dan perlu diawasi. Tapi kami memang diperingatkan.
Ada yang sampai diancam?
Pas siaran itu, ada yang nonton dari jendela, itu ada yang aneh pakai batik, bawa HT. Diancam grup preman, nggak tahu salah kami apa, pokoknya mau dibunuh di FFI Surabaya.
Akhirnya kami dijaga, karena saya lapor ke kakak saya. Kebetulan, sekarang sudah almarhum, beliau itu Laksus (pelaksana khusus) yang termasuk kejar-kejar Ali Sadikin.
Kata dia ‘lu berani banget’ dilihat suratnya, ada bercak darah. Dia ngomong ‘ini bukan preman yang kirim’ ternyata kami hanya mau dibungkam, di kamar dijaga, katanya takut dibunuh, padahal mah bukan.
Ya karena gitu, gila ya kita diperiksa, cuma karena mau bikin ketawa. Sebentar lagi, ketawa dilarang nih. Bercandanya gitu.
Siapa yang akhirnya muncul bikin celetukan gitu?
Kita bareng-bareng, yang akhirnya punya tagline 'jadi kita harus tertawa sebelum tertawa itu dilarang'. Suka pakai peragaan kan, kita mau ketawa, ada tentara atau polisi nggak nih? Sampai akhirnya ada tagline seperti itu.