Suara.com - Jalan hidup Noor Huda Ismail berubah total ketika teman baiknya dan teman satu kamar di Ponpes Al Mukmin Ngruki terlibat dalam kasus pemboman di Bali, 2002 lalu. Temannya itu Utomo Pamungkas alias Fadlullah Hasan alias Mubarok.
Huda tak percaya. Kala peristiwa terjadi, dia adalah jurnalis The Washington Post untuk Indonesia. Huda dicap dekat dengan teroris. Sejak saat itu, lelaki kelahiran Yogyakarta itu bergelut dengan isu terorisme. Fokusnya ke pencegahan.
Singkat cerita, sepulangnya dari Inggris karena kuliah S2, dia mendirikan Yayasan Prasasti Perdamaian. Dia mengumpulkan mantan pelaku pengeboman dan mantan pejuang Afghanistan. Mantan pelaku pengeboman itu dibantu untuk kembali ke masyarakat dan membuka usaha. Tujuannya agar mereka tak kembali menjadi ‘radikal’.
Sudah 14 tahun Huda fokus mendalami isu terorisme sejak peristiwa bom Bali. Namun 2014 lalu, Huda kembali dikagetkan dengan pernyataan Teuku Akbar Maulana. Akbar adalah remaja 17 tahun yang memutuskan untuk gabung dengan kelompok radikal ISIS di Suriah. Akbar adalah remaja asal Aceh yang mendapatkan beasiswa setingkat SMA di Turki.
Pertemuannya dengan Akbar, mendorong Huda untuk membuat film dokumenter yang menceritakan kisah Akbar yang hampir menjadi seorang radikal dengan bergabung dengan ISIS.
Mengejutkan, Akbar terdorong menjadi kombatan ISIS di Suriah karena terpengaruh informasi di internet, terutama media sosial. Kisah Akbar itu diceritakan di film ‘Jihad Selfie’.
Kesaksian Akbar, membuat analisa Huda semakin kuat soal bahasa sosial media dikaitkan dengan terorisme. Analisanya mengerikan, untuk menjaring seseorang untuk menjadi radikal tidak perlu bertemu dan mengajarkan. Cukup sebarkan paham radikal ke sosial media, maka orang yang membacanya berpotensi menjadi radikal.
Huda banyak bercerita dengan suara.com di salah satu restoran bermenu Timur Tengah di timur Jakarta pekan lalu. Kebetulan dia tengah singgah di Indonesia selama beberapa bulan untuk penelitian doktornya.
Huda mulai bercerita tentang film dokumenter sampai menganalisa bahaya sosial media yang bisa mempengaruhi pemikiran anak muda tentang terorisme.
Berikut wawancara lengkapnya:
Bagaimana awal ide pembuatan film ini?
Juni 2014 saya bertemu dengan seorang anak 17 tahun saat berada di Turki, tepatnya di Kota Kayseri. Namanya Teuku Akbar Maulana. Saya lagi menunggu perjalanan selanjutnya ke Cappadocia di warung Kebab.
Saat itu saya lagi makan dan melihat anak lelaki yang berbadan kurus. Saya tanya, “Indonesia?”. Ternyata dia dari Indonesia, dan saya ajak makan.
Di Kayseri, saya habis mengisi sebuah seminar internasional. Saya kan tiap 2 bulan ada seminar di berbagai tempat bicara soal terorisme, di Eropa dan sebagainya. Saya menyampaikan pandangan isu terorisme bukan sebagai isu keamanan tapi permasalahan sosial.
Saya tanya tujuan anak itu, dia menjawab mau ke Suriah. Saya sangat kaget, “ngapain ke sana?” Di sana lagi perang dan ada ISIS. Saya melihat dia lagi galau dan gundah. Dia cerita dua temannya sudah berangkat ke sana. Dua orang itu, teman dia yang selalu nongkrong bareng di warnet.
Setelah saya melanjutkan perjalanan ke Cappadocia, dia menghubungi kembali. Katanya masih galau dan nggak jadi berangkat karena yang jemput nggak datang.
Sehingga memungkinkan saya bisa bertemu dia lagi. Kemudian saya ke Australia, karena harus sekolah S3. Selama sekolah, komunikasi email dan WhatsApp masih jalan. Sejak itu, saya memulai bikin film yang diambil dari kisah nyata anak itu.
Karena saya bukan pembuat film, saya bikin film dengan cara sederhana. Saya dibantu banyak orang untuk pengambilan gambar, jadi ini bukan film saya saja. Ini film ramai-ramai. Sebagian besar gambar diambil oleh orang lain.
Kalau saya butuh gambar di Turki, saya dibantu mahasiswa Indonesia yang ada di sana. Sebagian gambar saya sendiri yang mengambil.
Jadi film ini tentang bagaimana pesona ISIS dan sosial media.
Film Anda berjudul ‘Jihad Selfie’. Mengapa diberi judul demikian?
Ada orang-orang yang berjihad karena teman-temannya yang sudah berjihad. Kemudian ini lah cara menafsirkan yang salah. Jihad selfie sesungguhnya jihad terhadap orang-orang yang Anda cintai. Misal bapak, ibu, adik dan kakak, bukan pergi ke suriah.
Karena di Suriah permasalahan geo politik, berbagai masalah ada di sana.
Tipe teroris di Indonesia itu 4L, “lu lagi lu lagi”. Jaringannya itu-itu saja dari 1.200 teroris yang ditangkap. Makanya saya tanya Akbar ini dari mana tahunya, ternyata dia tidak terkait jaringan. Dia dengan sendiri ingin berjihad ke Suriah. Saya sangat kaget saat itu.
Dia didorong jihad karena referensi di internet. Di tambah ada media sosial, Facebook. Siapapun bisa memberikan informasi di sana. Akbar didorong oleh temannya yang sudah di Suriah bersama ISIS. Akbar dan temannya itu berkomunikasi lewat Facebook.
Sejak kapan tren jhad selfie ini di kalangan pemuda Indonesia?
Dengan adanya perkembangan sosial media yang ketat. Sosial media mempunyai dampak positif dan negatif, bahkan sosial media memudahkan ISIS untuk berkomunikasi. Dulu, bentuk komunikasi collective action, sekarang menjadi connective action.
Sehingga untuk merekrut seseorang untuk mengikuti satu kelompok, tidak harus melatih. Dengan sendirinya orang itu bisa berangkat ikut ISIS seperti yang dilakukan Akbar.
Ada berapa jumlah orang yang melakukan jihad selfie di Indonesia?
Yang aku tahu jumlahnya sedikit, dibandingkan jumlah penduduk Indonesia 250 juta orang. Tapi permasalahan bukan dari sisi jumlah, tapi ini persoalan anak muda yang tidak bodoh. Dengan adanya sosial media, tren ini nggak akan turun.
Semisal kejadian bom Thamrin karena sosial media. Karena pelaku komunikasi ke ISIS Suriah lewat Telegram. Lewat sosial media ini bisa dilihat bagaimana ratusan orang datang ke Suriah dari berbagai negara untuk ikut ISIS.
Di film ini, apa yang ingin Anda sampaikan?
Di isu terorisme ini ada dua pembagian yang perlu dilihat. Di antaranya penegakan hukum dan pencegahan. Di bagian penegakan hukum domain negara sangat kuat sampai menangkap dan sebagainya. Tapi sebelum melakukan itu, harus ada pencegahan.
Domain saya di sini, critical thinking. Tugas saya untuk membuat orang berpikir ulang jika ingin menjadi teroris.
Sebab orang-orang yang hampir menjadi teroris kadang didorong negara masuk ke wilayah penegakan hukum. Sehingga diperlakukan seperti teroris. Misal orang-orang yang melakukan baiat, itu kan belum aksi. Bagaimana menjelaskan itu? Ini menjadi pekerjaan rumah sendiri untuk negara.
Di kasus Akbar, dia baru masuk Turki dan niat. Bagaimana negara memandang itu, apakah Akbar dianggap sebagai teroris? Lalu pihak yang membuat website propaganda, lalu orang-orang yang mengantarkan seseorang ke Suriah. Ini bagaimana penanganan seharusnya, aku juga belum ngerti.
Tapi menurut saya harus dipidahkan orang-orang yang sudah masuk ranah penegakan hukum dan pencegahan. Harus ada batas tertentu yang mengukur seseorang sudah terlibat teroris.
Makanya untuk menyelesaikan terorisme ini, apalagi dengan adanya sosial media, solusinya hubungan relasi keluarga yang kuat. Karena orang yang berangkat ke Suriah, semua bermasalah hubungan dengan keluarganya. Mereka kehilangan vigur bapak dan lain-lain.
Akbar belum masuk ke golongan menjadi teroris?
Belum. Cuma tergerak akan berangkat. Tinggal 5 jam lagi dia masuk ke perbatasan Turki-Suriah.
Bagaimana pergerakan ISIS saat ini?
ISIS dibagi dua, yang di Timur Tengah dan di Indonesia. Di Indonesia, simpatisan ISIS hanya sebagai supporter saja. Imajinasi mereka soal ISIS sama, tapi nggak ada keterkaitan langsung dengan ISIS yang di Timur Tengah. ISISI di Suriah berjuang untuk menghadapi berbagai serangan.
Mereka pun mempunyai cabang-cabang. Namun belum tentu cabang-cabang yang muncul di berbagai negara diakui oleh ISIS pusat di Suriah.
ISIS itu potret kecil dari fenomena bagaimana kita melihat negara Arab. Seperti yang kita lihat di Indonesia, orang melihat Arab dianggap sebagai khilafah, dan mengatakan “wow”. Indonesia menjadi daerah bahan pertempuran untuk mengatakan seseorang tidak cukup Islami.
Karena Arab masuk ke sini, banyak sekolah Arab di sini. Di sisi lain Amerika melihat Indonesia sebagai negara demokrasi tapi kok begitu, kental Arabnya. Jadi Indonesia menjadi tempat pertempuran du aide besar Islam dan sekuler barat.
Potensi bahaya ISIS di Indonesia?
Dampak terdekatnya, kelompok ini akan melakukan refleksi. Contohnya banyak yang melakukan serangan tapi gagal total, seperti di Thamrin dan Solo. Semangat jihatnya banyak. Bisa jadi ISIS di Suriah akan mengirimkan orang yang sudah terlatih. Bisa dari orang sana atau orang Indonesia yang kita tidak tahu itu siapa. Gelora melakukan jihad saat ini sangat besar, tidak pernah masyarakat menganggap mereka sebagai teroris.
Orang yang melakukan bom bunuh diri di Solo, Nurohman bisa hidup dan menghilang selama setahun tanpa diketahui keberadaannya. Itu artinya ada dukungan, logistik, dan jaringan dari kelompok itu. Begitu juga dengan Santoso yang bisa bergrilya sangat lama. Artinya ada struktur masyarakat dan sosial yang memungkinkan mereka hidup.
Di negara yang masyoritas Islam seperti Indonesia dan Arab Saudi, jika ada serangan bom yang mengatasnamakan Islam, pasti ada satu sikap yang dinamakan “denial” atau menolak.
Ada sebagian masyarakat yang menolak itu dilakukan oleh orang Islam. Ini terjadi di Saudi, ada kelompok yang menolak. Bahkan sampai saat ini banyak yang tidak percaya kalau yang melakukan pengeboman itu adalah Amrozi. Mereka percaya itu dilakukan CIA. Karena itu terjadi di negara besar muslim yang transisi. Selalu menyalahkan orang lain, terutama yang disalahkan Israel.
Makan saya ingin memberitahu, untuk tahu masalahnya apa maka kita harus bicara. Maka itu saya menggunakan film dan dokumenter.
Apakah ini pertama kali Anda membuat film?
Iya, tapi 2010 pernah membantu Daniel Rudi Haryanto menggarap film ‘Prison and Paradise’. Ini film dokumenter paska tragedi Bom Bali 2002, dengan mengambil sudut pandang para pengembom dan keluarga korban. Termasuk anak-anak mereka yang sama-sama muslim.
Saya memang sejak dulu senang membuat film dokumenter. Tapi menurut saya harus ada alasan kuat untuk membuat film independen. Ini adalah project mandiri dan nggak jelas sebenarnya. Siapa yang akan membeli film ini, saya pun belum mengerti. Saya juga nggak menyangka sampai menjadi viral.
Respon seperti apa yang Anda harapkan dari penonton?
Saya bukan orang film, saya hanya ingin mendapat kritikan. Karena film-film saat ini adalah film tentang hijaber, cinta-cinta dan menye-menye. Tapi itu bagus, karena kehidupan sudah rumit ngapain datang ke film yang serius.
Cuma masalahnya, mungkin nggak kita mendidik masyarakat dengan lebih cerdas. Saya inginnya seperti itu. Di film ini saya tidak menggurui.
Bagaimana cara menonton film ini?
Film ini bisa ditonton oleh siapapun dan dari komunitas mana pun. Tinggal kontak ke email saya, dan atur waktu. Saya tidak minta film saya ditonton, tapi para komunitas yang meminta. Dengan jaringan seperti ini saya melihat ternyata masyarakat Indonesia capek dengan perspektif tunggal negara melihat isu terorisme. Mereka perlu wacana lain untuk menjelaskan fenomena terorisme.
Obrolan saya dengan Akbar, saya mendapati ternyata diskusi agama menjadi nomor sekian alasan jihad. Tapi ternyata lebih ke pencarian jati diri. Faktor seperti itu yang dilupakan orang. Orang selalu melihat Islam adalah radikal.
Berapa dana yang Anda keluarkan untuk membuat film ini?
Ini dana dari pribadi, soal nilainya relatif. Saya pun tidak menghitung. Saya juga mengambil gambar menggunakan ponsel. Semua terkumpul 3 terabite gambar, durasi yang terkumpul 180 jam. Saya dibantu sekitar 7 kameramen. Kalau saya ke Turki, Malang, Solo dan di mana pun dibantuin.
Melalui media sosial, terorisme dan anak muda sepertinya bisa jadi semakin dekat. Bagaimana Anda melihat fenomena ini?
Betul, itu berpotensi menjadi gaya hidup.
Bagaimana untuk mengantisipastinya?
Penyelesaian terorisme bisa digambarkan dalam bentuk piramida. Dari paling atas bisa diselesaikan dengan penjara, bawahnya lagi melalui kajian informal, lalu pendidikan dan terakhir adalah keluarga.
Anak muda yang tidak mendapatkan perhatian dari keluarga, mereka akan mencari ke wilayah lain. Sosialisasi terhadap kekerasan begitu massif, mulai dari intoleransi dan menyikapi perbedaan.
Anda mengambil S3 di Australia, apa penelitian Anda?
Saya mengambil studi hubungan internasional, kajian saya tentang maskulinitas. Maskulinitas di antara orang-orang yang berjihad. Bagaimana konstuksi maskulinitas itu. Hipotesa saya bahwa sekarang penjelasan orang untuk bergerak berjihad ke luar negeri itu bagian dari upaya mereka untuk mencapai menjadi lelaki sejati.
Ada anggapan di sebuah masyarakat jika pencapaian yang paling tinggi bagi seorang lelaki adalah berjihad. Saya wawancara narasumber alumni Afganistan dan Moro.
Biografi singkat Noor Huda Ismail
Huda merupakan analis terorisme. Dia pernah menjadi koresponsen media Washington Post di Jakarta. Huda juga menjadi santri selama enam tahun di Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki. Pondok Pesantren itu terkenal saat beberapa alumninya menjadi pelaku bom bunuh diri.
Huda menempuh kuliah Jurusan Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta merangkap kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol UGM. Huda meraih gelar master dalam Studi Keamanan Internasional dari St. Andrews University Inggris. Saat ini Huda tengah menyelesaikan gelar doktornya di Monash University, Australia.