- Fenomena badai matahari dapat memicu gangguan presisi pada sinyal GPS.
- Peningkatan aktivitas badai matahari mendistorsi lapisan ionosfer di atmosfer Bumi.
- Ilmuwan terus mengembangkan teknologi prediksi dini ancaman badai matahari.
Suara.com - 11 November 2025 silam, Bumi dihantam suar surya yang dilepaskan oleh Matahari. Fenomena ini memicu badai Geomagnetik yang luar biasa hebat. Peristiwa badai Matahari ini mencapai puncaknya sekitar enam jam, dan memicu fenomena aurora yang indah di langit.
Badai Matahari ini juga mengakibatkan kekacauan pada teknologi yang kita gunakan sehari-hari.
Dalam studi baru yang dilakukan oleh para ilmuwan di jurnal Geophysical Research Letters, mereka mengukur gangguan pada sistem navigasi yang disebabkan oleh badai matahari ini.
Hasilnya cukup mengejutkan, terungkap bahwa peristiwa tersebut dapat menyebabkan kesalahan dalam penentuan titik koordinat secara presisi.
Selama fenomena ini berlangsung, Matahari melepaskan semburan radiasi dan partikel yang dapat mendistorsi atmosfer pada bagian ionosfer.
Hal ini dapat memperlambat dan juga membelokkan sinyal radio yang digunakan pada teknologi navigasi (GPS) yang melewati lapisan ini.
Dampak badai matahari umumnya paling terasa di sekitar garis khatulistiwa dan daerah kutub. Namun, saat terjadi badai geomagnetik yang sangat kuat, dampaknya bisa meluas hingga ke wilayah berlintang sedang.
Guna memantau efek peristiwa tersebut pada November 2025, para peneliti menggabungkan data dari kamera pemantau aurora serta jaringan penerima GPS darat di wilayah Amerika Serikat dan Kanada.
![Dampak terjadinya Badai Matahari. [NASA]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/04/07/49691-dampak-terjadinya-badai-matahari.jpg)
Penelitian tersebut memetakan konsentrasi elektron berenergi tinggi di lapisan ionosfer, mengukur fluktuasi sinyal, kemudian menganalisis kesalahan presisi posisi selama badai terjadi.
Seiring meningkatnya intensitas badai, teramati adanya pergerakan elektron menelusuri medan magnet Bumi yang kemudian bertabrakan dengan molekul gas di atmosfer atas pada berbagai garis lintang.
Badai matahari sulit diprediksi. Tergantung pada posisi Matahari selama siklus 11 tahunnya, bintang kita mengalami periode aktivitas matahari yang tinggi atau rendah.
Meski ilmuwan bisa memproyeksikan potensi letusan di fase puncak aktivitas, saat yang tepat dan besaran dampaknya masih sulit dipastikan.
Ilmuwan mengupayakan pengembangan alat-alat baru untuk membantu prediksi dini badai Matahari dengan lebih cepat dan akurat. Hingga saat ini efek yang ditimbulkan dari fenomena badai Matahari ini masih mengancam teknologi di Bumi.
“Penelitian ini mengindikasikan pentingnya pemahaman yang lebih mendalam terhadap fenomena cuaca antariksa untuk mengoptimalkan prediksi awal melalui observasi dan pemodelan berbasis fisika, sehingga dapat menekan potensi gangguan pada aplikasi frekuensi radio selama peristiwa seperti ini terjadi,” terang para peneliti.
Kontributor : Muhammad Ikhwan Nur Ariyansyah