Suara.com - Tim Riset dan Analisis Global Kaspersky (Global Research and Analysis Team /GReAT) menemukan kelompok Fog Ransomware.
Kelompok itu dikenal karena serangannya terhadap berbagai sektor industri, mulai menghubungkan alamat IP korban mereka dengan data yang telah mereka curi dan menerbitkan informasi ini di Dark Web.
Hal ini menandai terjadinya peralihan dari taktik pemerasan ransomware tradisional.
Dengan menerbitkan alamat IP dengan cara ini, kelompok tersebut meningkatkan tekanan psikologis pada korban.
Aksi ini membuat pelanggaran tampak lebih langsung dan dapat dilacak sekaligus meningkatkan risiko denda regulasi bagi organisasi yang terekspos.
Ransomware-as-a-Service (RaaS) adalah model bisnis tempat pengembang malware menyewakan ransomware dan infrastruktur kontrolnya kepada penjahat dunia maya lainnya.
![Waspada Fog-Ransomware, Memeras Korban Usai Ekspos Data Pribadi. [Unsplash]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/03/29/20460-waspada-fog-ransomware-memeras-korban-usai-ekspos-data-pribadi.jpg)
Fog Ransomware adalah kelompok yang menawarkan layanan ransomware yang muncul pada awal tahun 2024.
Kelompok ini dikenal karena serangannya terhadap sektor-sektor seperti pendidikan, rekreasi, dan keuangan.
Kelompok tersebut bertindak dengan mengeksploitasi kredensial VPN yang disusupi untuk mengakses data korban yang segera dienkripsi, terkadang dalam kurun waktu kurang dari dua jam.
Baca Juga: Tips Amankan Data Pribadi, Jangan Sampai Momen Lebaran Hilang!
Serangan tersebut memengaruhi sistem Windows dan Linux.
Sebelumnya, Fog menggunakan taktik pemerasan ganda, mengenkripsi data dan mengancam akan mengeksposnya ke publik untuk menekan korban agar membayar tebusan.
Bahkan, taktik baru Fog melangkah lebih jauh karena mereka menjadi grup RaaS pertama yang secara terbuka mengungkap alamat IP dan data curian milik korban mereka di Dark Web setelah serangan tersebut.
Selain tekanan fisiologis yang meningkat pada korban, terungkapnya IP juga dapat berfungsi untuk memfasilitasi aktivitas kejahatan dunia maya tambahan dengan menyediakan titik masuk potensial bagi pelaku ancaman eksternal ke jaringan yang telah disusupi.
Serangan lanjutan dapat mencakup aktivitas penjejalan kredensial atau botnet terhadap organisasi yang telah disusupi.
“Seiring operator ransomware menghadapi penurunan pembayaran karena peningkatan pertahanan keamanan siber dan tekanan regulasi, mereka berupaya menyempurnakan metode pemerasan tebusan untuk memperkuat pengaruh atas korban,” kata Marc Rivero, Peneliti Keamanan Utama di Kaspersky GReAT.
Menurutnya, pengungkapan alamat IP ke publik bersamaan dengan kebocoran data dapat meningkatkan kemungkinan organisasi menuruti untuk membayar tebusan dalam insiden yang akan datang.
![Waspada Fog-Ransomware, Memeras Korban Usai Ekspos Data Pribadi. [Unsplash]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/03/29/64163-waspada-fog-ransomware-memeras-korban-usai-ekspos-data-pribadi.jpg)
"Taktik ini bisa menjadi strategi pemasaran yang didorong rasa takut, di mana penyerang memamerkan kekejaman mereka dengan mengintimidasi korban di masa mendatang agar membayar dengan cepat," tutupnya dalam keterangan resminya, Sabtu (29/3/2025).
Fog Ransomware menggunakan teknik yang sangat berbeda dari jenis ransomware sebelumnya.
Salah satu fitur utama dari ransomware ini adalah kemampuannya untuk mengenkripsi file secara acak, menggunakan algoritma yang sangat kompleks.
Begitu terinfeksi, Fog akan mencari dan mengenkripsi file penting di komputer korban, termasuk dokumen, spreadsheet, dan database.
Setelah itu, pesan tebusan akan muncul di layar yang menyatakan bahwa file tidak dapat diakses tanpa membayar sejumlah uang tebusan.
Berbeda dengan banyak varian ransomware yang hanya mengenkripsi data, Fog juga menyertakan ancaman untuk membocorkan data sensitif kepada publik, yang berpotensi merusak reputasi perusahaan dan menimbulkan kerugian finansial yang besar.
Hal ini menjadikan korban terpaksa membayar tebusan lebih tinggi agar data mereka tidak tersebar di internet.
Para peneliti keamanan siber mencatat bahwa Fog Ransomware lebih sering menargetkan organisasi besar, instansi pemerintahan, hingga sektor kritis seperti kesehatan dan pendidikan.
Serangan terhadap sektor-sektor ini dapat menyebabkan gangguan operasional yang besar, karena selain mengenkripsi data, ransomware ini juga dapat merusak sistem yang berfungsi untuk operasional sehari-hari.
Akibatnya, proses bisnis dapat terhenti, yang berpotensi menyebabkan kerugian finansial yang sangat signifikan.