Suara.com - Lubang hitam, fenomena ekstrem di alam semesta, merupakan objek dengan gravitasi terkuat yang diketahui. Saking kuatnya, bahkan cahaya pun tidak dapat lolos dari cengkeramannya. Meskipun seringkali berukuran kecil dan sangat padat, lubang hitam memiliki pengaruh yang signifikan terhadap lingkungan kosmiknya.
Melalui pengamatan dan penelitian terhadap interaksi lubang hitam dengan materi di sekitarnya, seperti bintang dan gas, para ilmuwan berusaha mengungkap misteri di balik pembentukan dan evolusi objek luar biasa ini.
Bagaimana Lubang Hitam Terbentuk?
Lubang hitam bermula dari kematian bintang masif seperti dikutip dari scienceabc. Ketika inti bintang kehabisan bahan bakar, ia runtuh akibat tekanan gravitasinya sendiri.
Proses ini menghasilkan ledakan dahsyat yang dikenal sebagai supernova. Sisa dari ledakan ini menciptakan lubang hitam bermassa bintang, salah satu jenis lubang hitam yang paling umum.
Selain itu, ada juga lubang hitam supermasif yang ditemukan di pusat galaksi, termasuk galaksi kita, Bima Sakti. Namun, proses pembentukannya masih menjadi misteri. Para ilmuwan menduga lubang hitam jenis ini mungkin terbentuk bersamaan dengan pembentukan galaksi itu sendiri.
Selain itu, terdapat teori menarik tentang lubang hitam primordial, yang diyakini terbentuk jauh sebelum bintang-bintang pertama lahir, pada awal terciptanya alam semesta.
![Gambar pertama lubang hitam dibuat menggunakan pengamatan pusat galaksi M87 yang diambil oleh Event Horizon Telescope. [NASA/Event Horizon Telescope Collaboration]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/12/12/15770-gambar-pertama-lubang-hitam-dibuat-menggunakan-pengamatan-pusat-galaksi-m87.jpg)
Lubang Hitam Primordial (PBH): Jejak dari Awal Alam Semesta
Lubang hitam primordial (PBH) diperkirakan terbentuk segera setelah Big Bang, pada masa ketika kondisi alam semesta sangat ekstrem. Tidak seperti lubang hitam bermassa bintang yang berasal dari keruntuhan inti bintang, PBH diyakini muncul dari mekanisme lain, seperti:
Baca Juga: Mengapa Bintang Memiliki Warna yang Berbeda-beda?
- Ketidakhomogenan densitas: Variasi kecil dalam distribusi materi yang menyebabkan area dengan densitas tinggi runtuh menjadi lubang hitam.
- Keruntuhan untaian kosmik: Struktur seperti tali yang terbentuk selama awal alam semesta mungkin runtuh dan menciptakan PBH.
- Ketidakstabilan gravitasi: Ketidakseimbangan gravitasi di masa awal alam semesta yang memicu pembentukan PBH.
PBH juga terkait dengan radiasi Hawking, yaitu proses di mana lubang hitam perlahan "menguap" dengan memancarkan radiasi. PBH yang bermassa kurang dari 1015 gram diperkirakan telah punah, tetapi mereka meninggalkan jejak berupa sinar gamma latar belakang, antimateri dalam sinar kosmik, atau ledakan sinar gamma pendek yang tiba-tiba.