Mungkin kita belum menemukan alien karena alam semesta kita tidak mendukung kehidupan. Mungkin Bumi adalah sebuah anomali — titik biru keberuntungan yang terapung di lautan luas kegelapan dan dunia mati.
Mungkin kita akan lebih beruntung mencari kehidupan di alam semesta berikutnya.
Gagasan terakhir ini adalah premis studi pada tahun 2024 yang mengasumsikan bahwa kosmos kita hanyalah sebuah kemungkinan alam semesta dalam realitas “multiverse” yang tak ada habisnya, masing-masing sedikit berbeda dari yang lain.
Untuk menguji apakah alam semesta kita memiliki kondisi optimal bagi munculnya kehidupan, para peneliti membandingkan laju pembentukan bintang di sini dengan laju pembentukan bintang di sejumlah alam semesta paralel hipotetis dengan konsentrasi materi dan energi berbeda.
Faktor utama yang dipertimbangkan tim adalah kepadatan energi gelap di alam semesta – sebuah kekuatan misterius yang mendorong perluasan kosmos secara konstan dan mempercepat.
Alam semesta yang memiliki terlalu banyak energi gelap akan mengembang terlalu cepat, menghamburkan materi pembentuk bintang, dan menghambat pertumbuhan struktur berskala besar seperti gugus galaksi.
Namun di alam semesta dengan energi gelap yang terlalu sedikit, gravitasi mungkin menjadi sangat besar, menyebabkan struktur besar runtuh sebelum planet yang dapat dihuni sempat terbentuk.
Model yang dilakukan tim mengungkapkan bahwa kepadatan optimal energi gelap di alam semesta akan memungkinkan hingga 27% materi biasa berubah menjadi bintang.
Namun di alam semesta kita, hanya sekitar 23% materi yang berubah menjadi bintang – yang berarti jumlah bintang di alam semesta lebih sedikit dibandingkan jumlah bintang yang ada, dan akibatnya, semakin sedikit tempat bagi kehidupan alien untuk muncul.
Baca Juga: Manusia Singa: Jejak Kepercayaan Agama Tertua di Dunia
Semoga beruntung di alam semesta berikutnya!