Terasi Indonesia Lebih Nikmat dan Layak Ekspor, Ini 3 Strateginya

Liberty Jemadu Suara.Com
Senin, 11 Oktober 2021 | 19:03 WIB
Terasi Indonesia Lebih Nikmat dan Layak Ekspor, Ini 3 Strateginya
Ilustrasi terasi [shutterstock]
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Perbedaan kandungan peptida tersebut juga dapat dipengaruhi oleh jenis bahan baku, kondisi fermentasi, dan keragaman jenis mikrob.

Strain isolat bakteri asam laktat halofilik (suka kadar garam tinggi), yaitu Tetragenococcus muriaticus, yang ditemukan dalam terasi Cirebon tidak menghasilkan histamin. Histamin termasuk senyawa yang dapat menimbulkan keracunan ketika dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Selain itu, terasi Indonesia juga mengandung bakteri Virgibacillus salexigens yang dapat menghasilkan senyawa bakteriosin. Artinya, terasi menjadi aman dikonsumsi karena secara alami terdapat peptida bakteriosin yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen selama penyimpanan.

Gen penyandi senyawa bakteriosin tersebut dapat direkayasa agar dapat dihasilkan bakteriosin dalam jumlah besar yang berpotensi menjadi bahan pengawet alami pengganti bahan pengawet sintetik untuk pangan.

Beberapa perajin lokal terasi Indonesia mengekspor produknya.

Contohnya adalah terasi instan “Juwana” yang diproduksi di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, sudah diekspor ke Australia, Kanada, dan Amerika Serikat. Selain itu, banyak juga dijual di kota-kota besar di Pulau Jawa dan Batam.

Terasi Toboali, Bangka Belitung, juga dikenal sebagai terasi udang dengan kualitas baik yang sudah diekspor ke mancanegara.

Terasi Singkawang, Kalimantan Barat sudah diekspor ke Taiwan, Hong Kong, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Dubai sejak tahun 2000.

Begitu pula dengan terasi dari daerah Bagansiapi-api, Riau, yang sudah diekspor ke Malaysia dan Singapura.

Baca Juga: Tak Jago Masak, Sambal Terasi Ikke Nurjanah Jadi Menu Andalan Suami

Jumlah total ekspor terasi belum signifikan. Misalnya, jumlah ekspor terasi Riau baru mencapai sekitar 10-15 ton setiap kali keberangkatan dan biasanya dalam setahun bisa mencapai 6 kali pengiriman. Untuk itu diperlukan beberapa strategi untuk meningkatkan daya saing terasi Indonesia.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI