Hentikan Pembangunan di Utara Ibu Kota untuk Cegah Jakarta Tenggelam

Liberty Jemadu Suara.Com
Rabu, 06 Oktober 2021 | 17:41 WIB
Hentikan Pembangunan di Utara Ibu Kota untuk Cegah Jakarta Tenggelam
Diperkirakan sebagian Jakarta tenggelam pada 2050. Foto: Proyek pembangunan tanggul laut raksasa di Kalibaru, Jakarta, Senin (7/5). [Antara]
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Profesor Riset bidang Geoteknologi dan Hidrogeologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Robert Delinom mengatakan perlu menghindari pembangunan gedung secara masif di utara Jakarta untuk menahan laju penurunan muka tanah sehingga mengurangi risiko Jakarta tenggelam.

"Jangan bikin bangunan masif, karena akan menyebabkan terjadinya penurunan muka tanah," kata Robert dalam Webinar Nasional Prof Talk: Benarkah Jakarta dan Pantura Akan Tenggelam? di Jakarta, Rabu (6/10/2021).

Selain pembangunan gedung-gedung yang masif, Robert mengatakan pengambilan air tanah secara berlebihan dan masif akan menyebabkan penurunan muka tanah.

Ketika penurunan muka tanah terus-menerus terjadi, dibarengi dengan kenaikan muka air laut sebagai dampak perubahan iklim, maka potensi Jakarta tenggelam akan semakin besar.

Robert menyarankan tata kelola pembangunan di Jakarta dapat dibagi menjadi tiga zona, yakni zona utara, tengah, dan selatan. Zona utara sebagai zona sarana umum dengan bangunan ringan, dan zona tengah sebagai zona bisnis atau perumahan dengan bangunan bertingkat.

"Pada bagian utara Jakarta, kita tidak bikin lagi bangunan-bangunan yang masif tapi dengan bangunan-bangunan yang lebih ringan," ujarnya.

Sementara zona selatan sebagai zona penyangga air tanah dengan bangunan berhalaman luas, sehingga menjadi daerah resapan air.

"Pada bagian Selatan ini adalah zona penyangga air tanah karena ada hasil penelitian kita ini adalah zona resapan Jakarta," tuturnya.

Zona selatan diperuntukkan untuk daerah resapan air karena pasokan air tanah Jakarta sebenarnya tidak berasal dari Puncak, Bogor, Jawa Barat, tetapi berasal dari daerah Jakarta sendiri mulai dari Depok, Jawa Barat ke utara.

Baca Juga: Air Laut Belum Rendam Monas di 2050

"Makanya Jakarta cepat sekali airnya habis karena kita salah hitung kita anggap bahwa Jakarta itu pasokan airnya dari Puncak padahal tidak sampai situ. Pasokan airnya itu mulai dari Depok, jadi sedikit sekali. Makanya begitu pengambilan air banyak maka muka tanah cepat turun," ujarnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI