200 Perusahaan Video Game China Larang Konten Pornografi dan Kekerasan

Dythia Novianty Suara.Com
Minggu, 26 September 2021 | 08:41 WIB
200 Perusahaan Video Game China Larang Konten Pornografi dan Kekerasan
Ilustrasi main game. [TopUpGameShop]
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Ratusan pembuat video game China telah setuju melarang konten yang berbahaya secara politis, nihilistik historis, kotor dan pornografi, berdarah dan menakutkan.

Sebanyak 213 perusahaan, termasuk pemain industri top Tencent dan NetEase, berjanji juga akan memberlakukan pembatasan pada pemain di bawah umur, sebagaimana melansir dari Dailymail, Minggu (26/9/2021).

Perusahaan juga berjanji dalam pernyataan bersama untuk mengawasi produk mereka yang berbau 'pemujaan uang' atau 'kewanitaan' dalam permainan mereka.

Mereka berjanji melakukan semua upaya mengatasi anti-kecanduan dan secara ketat menegakkan batasan waktu layar anak-anak melalui pengenalan wajah dan teknologi identifikasi lainnya.

Pihak berwenang China dalam beberapa pekan terakhir memberlakukan pembatasan ketat pada industri game bernilai miliaran dolar di negara itu.

Pemerintah membatasi pemain di bawah 18 tahun hanya tiga jam waktu bermain game seminggu dan memerintahkan bisnis untuk menghapus penggambaran lelaki 'banci' dari aplikasi mereka.

Main game. [unsplash]
Main game. [unsplash]

Perusahaan papan atas juga diperintahkan oleh regulator bulan ini untuk berhenti fokus pada keuntungan dan mendapatkan penggemar, dengan perusahaan yang dianggap melanggar aturan terancam hukuman.

Ini terjadi di tengah peluncuran regulasi lebih luas yang bertujuan untuk mengekang sektor teknologi berpengaruh di negara itu.

Termasuk keamanan data baru yang keras dan undang-undang privasi online serta aturan yang membatasi kekuatan algoritme aplikasi untuk membentuk aktivitas online pengguna.

Baca Juga: Konten Video Game Makin Tenar di TikTok, Wujud Nyata Perkembangan e-Sports

Pada saat yang sama, pemerintah Komunis negara itu mengejar selebriti dan idola musik, menyalahkan mereka karena mempromosikan 'estetika abnormal' dan nilai-nilai tidak sehat di kalangan pemuda China.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI