Asteroid yang jatuh ini diketahui berukuran 100 meter setelah menembus lapisan ozon, berbobot sekitar 1 juta ton, dan memiliki kecepatan hingga 108.000 km per jam.
Gelombang kejut yang dihasilkan mencapai ketinggian hingga 10 km.
Di Indonesia, peristiwa jatuhnya asteroid terbesar muncul pada 8 Oktober 2009 di Sulawesi Selatan yang dijuluki asteroid Bone.
Gelombang kejutnya menggetarkan kaca jendela rumah warga. Asteroid ini memiliki ukuran 10 meter setelah menembus ozon.
Hingga saat ini, Thomas mengatakan total ada 25.000 asteroid yang kini mengelilingi Bumi.
Dari total jumlah tersebut, ada ratusan asteroid berukuran terbesar dengan diameter 1 km.

Kemudian asteroid yang berukuran besar dengan diameter lebih dari 140 meter berjumlah sekitar 10.000-an.
"Jika asteroid yang besar ini jatuh ke bumi, terutama di laut, itu bisa menyebabkan tsunami. Sementara kalau jatuhnya ke tanah, itu bisa membentuk kawah," kata Thomas dalam webinar Asteroid Day 30 Juni, secara virtual, Rabu (30/6/2021).
Seiring perkembangan zaman dan teknologi, Thomas mengatakan, kemungkinan jatuhnya asteroid ke Bumi yang berdampak besar seperti Tunguska akan jarang terjadi.
Baca Juga: Bolehkan Menyimpan Meteorit Jatuh ke Bumi untuk Koleksi Pribadi?
Sebab, beberapa negara seperti Amerika Serikat dan China, telah memiliki peralatan yang bisa mengubah orbit asteroid dan mengubah lokasi jatuhnya ke daratan tak berpenghuni.