"Secara teknis tulisan pengirim pada SMS bisa diubah menggunakan SMS masking menggunakan institusi pemerintah," kata pria kelahiran Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah ini.
Jika dilihat dan dibandingkan dengan SMS dari BMKG sebelumnya, SMS kali ini memang mempunyai format yang berbeda. Misalnya, pada kata pembuka biasanya diawali info gempa dan menempatkan lokasi terdampak gempa atau tsunami selalu di akhir, sedangkan yang ini langsung lokasi terdampak diinfokan di awal.
Menurut Pratama, peristiwa ini sangat berbahaya bila terjadi lagi karena bisa membuat orang panik. Pasalnya, kesalahan peringatan bencana tersebut akan menimbulkan keresahan masyarakat Indonesia mengenai pesan peringatan bencana.
Ia mengatakan bahwa BMKG dan semua pihak terkait harus selalu meningkatkan keamanan sistem informasinya, baik dari sisi teknologi, SDM, maupun policy-nya supaya hal ini tidak terjadi lagi.