Kemudian 11 juta data pengguna berasal Inggris dan 6 juta lainnya dari pengguna India. Sementara untuk pengguna Indonesia mencakup 130.331 data.
Data tersebut kemudian dicocokkan dan diverifikasi. Ternyata, data yang dibocorkan memang sesuai dengan profil pengguna Facebook.
Menurut Juru Bicara Facebook, insiden ini terjadi sejak 2019 lalu. Saat itu, Facebook memang memiliki kerentanan data yang pada akhirnya sudah diperbaiki perusahaan.
Peneliti Keamanan Siber Alon Gal mengatakan, data yang sudah berusia beberapa tahun dan bocor ke internet berpeluang memberikan informasi berharga bagi penjahat dunia maya. Mereka akan menggunakan data tersebut untuk menyamar atau menipu seseorang dan menyerahkan kode kredensial.
"Basis data sebesar itu, yang berisi informasi pribadi seperti nomor telepon banyak pengguna Facebook, pasti akan menyebabkan pelaku kejahatan memanfaatkan data tersebut untuk melakukan serangan rekayasa sosial atau upaya peretasan," kata Gal.
Menurut Gal, Facebook seharusnya memperlakukan data pengguna dengan hormat. Sebab, banyak orang yang mendaftar Facebook mempercayai mereka dengan menyerahkan data ke dalam aplikasi.
![Ilustrasi perlindungan data pribadi. [Shutterstock]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2019/08/28/64294-data-pribadi.jpg)
"Pengguna yang informasi pribadinya bocor adalah pelanggaran kepercayaan yang sangat besar dan harus ditangani sebagaimana mestinya," pungkas Gal.