Suara.com - Di tengah derasnya arus informasi, Facebook terus berbenah menangkal kabar yang dikategorikan sebagai misinformasi di dalam platformnya.
Ruben Hattari selaku Kepala Kebijakan Publik untuk Facebook di Indonesia mengungkapkan, sebagai salah satu platform media sosial, pihaknya memastikan semua orang untuk memiliki informasi yang kuat kebenarannya.
“Contohnya adalah informasi mengenai Covid-19, kami bertanggung jawab untuk memutus informasi yang berbahaya agar tidak beredar ke publik,” kata Ruben dalam Diskusi Virtual Facebook Summit Indonesia, Selasa (10/11/2020).
Kasus lain yang juga menjadi pantauan Facebook adalah klaim atas obat pada Covid-19, ketersediaan rumah sakit, ajakan menggelar pertemuan fisik, hingga stigma negatif terhadap pasien terpapar Covid-19.

“Hal-hal itu juga menjadi infomasi yang kita awasi di Facebook,” katanya.
Dalam menanggulangi misinformasi terkait Covid-19, Ruben melakukan kerja sama dengan berbagai pihak yang memang bertanggung jawab Covid-19, seperti Gugus Tugas 19 atau WHO.
“Jadi ketika orang ingin mencari info tentang Covid-19, maka mereka akan diarahkan ke situs lembaga penanganan Covid-19 tersebut,” jelas Ruben.
Selain Facebook, mereka juga melakukan kebijakan yang sama dalam platform WhatsApp dan Instagram. Untuk WhatsApp, Ruben mencontohkan bahwa mereka telah melakukan kerja sama dengan Kominfo dengan membuat akun ChatBot yang berisi tentang informasi Covid-19.
Kemudian pada platform Instagram, Ruben juga menambahkan fitur agar para pengguna lebih mawas terhadap penyebaran virus Covid-19. Di sana, ia menambahkan fitur stiker ‘DirumahAja’ yang bisa digunakan para pengguna Instagram.
Baca Juga: Melalui Facebook, Rumah Atsiri Kenalkan Wisata Edukasi Tanaman Aromatik
“Stiker itu dimaksudkan untuk mendorong teman-teman semua agar bisa tetap berdiam di rumah demi menghindari penularan Covid-19,” ungkapnya.