Suara.com - Pergeseran bekerja jarak jauh yang sebabkan pandemi virus Corona (Covid-19) telah menciptakan tantangan keamanan siber baru bagi NASA.
Badan antariksa tersebut secara efektif menutup semua pusat lapangannya pada Maret dan membatasi akses hanya ke karyawan penting.
Sementara beberapa karyawan diizinkan bekerja di lokasi karena berhubungan dengan sistem misi yang tidak dapat dilakukan dari jarak jauh, sebagian besar karyawan NASA terus bekerja dari jarak jauh.
Sistem kerja seperti ini diperkirakan akan terus berlangsung selama beberapa bulan mendatang. Rupanya, hal itu berdampak besar pada sistem teknologi informasi (TI) NASA.
![Logo NASA. [Shutterstock]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2018/04/22/99835-logo-nasa.jpg)
"Selama pandemi, tuntutan dan ekspektasi yang ditempatkan pada infrastruktur TI NASA sangat tinggi," kata Jeff Seaton, pejabat kepala informasi (CIO) NASA, seperti dikutip Space News, Rabu (23/9/2020).
Seaton mencatat bahwa pada saat pandemi, 90 persen karyawan melakukan teleworking. Penggunaan sistem jaringan pribadi virtual badan antariksa tersebut, menyediakan akses aman ke sistem TI NASA untuk pengguna jarak jauh, meningkat dari puncak pra-pandemi 12.000 pengguna sehari menjadi hampir 40.000 sehari.
Peningkatan dalam pekerjaan jarak jauh itu menimbulkan masalah keamanan siber bagi agensi yang telah lama berjuang untuk mengamankan jaringannya secara memadai dari serangan, baik dari negara kebangsaan maupun individu.
Paul Martin, inspektur jenderal NASA, mencatat bahwa kantornya telah merilis 16 laporan audit dengan 72 rekomendasi, yang membahas keamanan siber dan masalah terkait dalam lima tahun terakhir.
Martin mengatakan bahwa pandemi dan peningkatan penggunaan kerja jarak jauh telah memperburuk masalah tersebut.
Baca Juga: Produk Kecantikan Ini Dikirim NASA ke Stasiun Luar Angkasa Internasional
"Selama periode ini, NASA telah mengalami peningkatan ancaman dunia maya, seperti penggandaan upaya phising atau email palsu," kata Martin.