Terkuak: Buku "Menang" Lawan e-Book

Rabu, 30 Mei 2018 | 13:18 WIB
Terkuak: Buku "Menang" Lawan e-Book
Buku tetap disuka dibandingkan e-book yang revolusioner dan sangat modern [Shutterstock].
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Pernyataan ini diperkuat bahwa seluruh responden dari semua grup partisipan menyatakan rasa frustasi saat gagal melakukan pengkopian file digital ke berbagai perangkat mereka. Lalu kenyataan bahwa  e-book tidak bisa dijadikan kado buat teman, juga tidak membuka peluang untuk kegiatan tukar pinjam laiknya buku biasa, telah membuat responden merasa memiliki keterbatasan akan e-book.

Responden mengungkapkan betapa ada nilai emosi dalam sebuah buku biasa atau yang hadir secara fisik. Hal ini khususnya buku-buku yang dimiliki sejak masih kanak-kanak.  Secara tidak langsung, buku fisik telah mengajak indera selain penglihatan untuk ikut  menikmati: seperti bau buku baru,bunyi lembaran saat dibuka, sampai bisa membubuhkan catatan atau menempelkan keterangan di buku dengan kertas berperekat.

Koleksi buku yang hadir secara fisik mampu mengidentifikasikan diri mereka kepada pihak lain, saat menilik rak buku. Sementara di e-book, hal ini tidak terjadi.

“Hasil akhirnya, buku dan e-book memang produk yang sama sekali berbeda, baik di soal nilai maupun keberadaan,” tandas Helm. “Kalau bicara e-book, lebih kepada pengalaman layanan, dan mengarah ke kondisi fungsional semata. Sementara, seseorang merasa lebih “kaya” bila memiliki buku yang bisa dipegang dan seluruh indera terlibat di dalamnya.”

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI