Lampu Kuning untuk Ganda Campuran Indonesia

Selasa, 27 November 2018 | 16:21 WIB
Lampu Kuning untuk Ganda Campuran Indonesia
Pasangan ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, melaju ke semifinal Asian Games 2018. [Humas PBSI]
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Situasi pelik tengah dihadapi sektor ganda campuran Indonesia. Hal ini menyusul akan pensiunnya Liliyana Natsir dai pentas bulutangkis nasional dan dunia.

Sang partner, Tontowi Ahmad yang masih aktif bermain, belum menemukan duet sepadan untuk melanjutkan kejayaan duetnya dengan Liliyana Natsir.

PBSI, selaku induk cabang olahraga bulutangkis Indonesia, dinilai tengah dalam kondisi sulit. Pasalnya, saat kehilangan pemain terbaik, mereka belum juga menemukan pelapis yang sepadan.

Hal itu diamini oleh legenda bulutangkis Indonesia, Christian Hadinata. Bahkan, dia menyebut Indonesia sudah masuk tahap lampu kuning atau peringatan terkait performa wakil-wakil ganda campuran saat ini.

Baca Juga: Tak Sangka, Ini Pebalap Terbanyak Jatuh di MotoGP 2018

"Di sektor ganda campuran ini jujur, faktanya saat ini berada di lampu kuning pada level-level super series (sekarang bernama BWF World Tour)," ujar Koh Chris, sapaan akrabnya, saat ditemui di Grand Indonesia, Jakarta, Senin (27/11/2018).

"Sejauh ini yang saya ikuti dari beberapa kejuaraan, apalagi level atas, (para pasangan ganda campuran Indonesia) sudah mulai jarang juara. Justru yang juniornya yang juara, kalau dahulu terbalik," peraih medali emas Olimpade 1972 Munich menambahkan.

Legenda bulutangkis Indonesia, Christian Hadinata, saat ditemui di Grand Indonesia, kawasan MH Thamrin, Jakarta, Senin (26/11/2018). [Suara.com/Arief Apriadi]
Legenda bulutangkis Indonesia, Christian Hadinata, saat ditemui di Grand Indonesia, kawasan MH Thamrin, Jakarta, Senin (26/11/2018). [Suara.com/Arief Apriadi]

Richard Mainaky selaku pelatih kepala ganda campuran PBSI, disebut Koh Chris, punya pekerjaan rumah yang terlampau berat.

Menemukan pasangan yang mampu mencapai level setara Tontowi/Liliyana disebut tak semudah membalikkan telapak tangan.

Kehilangan sosok hebat dalam diri Liliyana Natsir, ditambah belum matangnya para pemain pelapis seperti Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja dan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti dinilai Koh Chris harus bisa segera di atasi.

Baca Juga: 5 Pebalap MotoGP dengan Ritual Unik Sebelum Balapan

Pasangan ganda campuran Indonesia, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, lolos ke babak kedua Hong Kong Open 2018 usai menang atas wakil tuan rumah, Chang Tak Ching/Ng Wing Yung, Selasa (13/11/2018). [Humas PBSI]
Pasangan ganda campuran Indonesia, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, lolos ke babak kedua Hong Kong Open 2018 usai menang atas wakil tuan rumah, Chang Tak Ching/Ng Wing Yung, Selasa (13/11/2018). [Humas PBSI]

"Memang sulit ya menggantikan seorang Butet—sapaan akrab Liliyana. Jadi belum ada ganda campuran dari sektor putrinya yang levelnya seperti Butet," kata Koh Chris.

"Ini adalah PR yang luar biasa buat coach Richard Mainaky. Ibaratnya Ia masih mencari-cari, tapi tuntutannya tidak boleh berlama-lama, karena sebentar lagi sudah masuk kualifikasi Olimpiade," imbuh legenda bulutangkis yang kini menjadi pelatih klub PB Djarum.

Seperti diketahui, PBSI saat ini tengah mencari sosok pengganti Liliyana untuk dipasangkan dengan Tontowi Ahmad. Sejauh ini, Della Destiara Haris menjadi pilihan utama.

Pasangan anyar ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad/Della Destiara Haris, terhenti di babak pertama Hong Kong Open 2018 setelah kalah dari Yuta Watanabe/Arisa Higashino (Jepang), dengan skor 15-21 dan 9-21, Selasa (13/11/2018). [Humas PBSI]
Pasangan anyar ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad/Della Destiara Haris, terhenti di babak pertama Hong Kong Open 2018 setelah kalah dari Yuta Watanabe/Arisa Higashino (Jepang), dengan skor 15-21 dan 9-21, Selasa (13/11/2018). [Humas PBSI]

Namun, perjalanan keduanya terbilang cukup terjal. Langsung kalah di babak pertama Hong Kong Open 2018 dan terpaksa mundur dari Syed Modi International Badminton Championships 2018 dan Korea Masters, semakin memperlambat pembangunan kekompakkan antar keduanya.

"Ganda campuran kan juara bertahan di Olimpiade 2016, mereka (Tontowi/Liliyana) mendapatkan emas. Jadi ini tantangan yang berat bagi Richard untuk menemukan penggantinya Butet," tukasnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI