Ceramah Gus Baha Soal Tahlilan: Bukan Sekadar Tradisi Lokal

M. Reza Sulaiman Suara.Com
Sabtu, 14 Desember 2024 | 13:19 WIB
Ceramah Gus Baha Soal Tahlilan: Bukan Sekadar Tradisi Lokal
Gus Baha. (Facebook/Gus Baha)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Tahlilan telah menjadi tradisi yang sering dilakukan oleh umat Islam di Indonesia. Biasanya, tahlil dilakukan dalam berbagai momen seperti selamatan, mendoakan orang meninggal, rutinan malam Jumat, atau acara lainnya. Lantas bagaimana kata Gus Baha soal tahlilan?

Meski banyak dilakukan umat Islam di Indonesia, namun sebagian lainnya menganggap jika kegiatan tahlilan adalah bid'ah. Mereka mengira, jika tahlilan hanya dilakukan di Indonesia saja dan landasan dalilnya sangat lemah.

Terkait persoalan ini, Gus Baha menjelaskan bahwa tahlilan bukan hanya sekadar tradisi lokal. Amalan tahlil memiliki landasan kuat, yang bahkan diakui dalam skala internasional.

Gus Baha mengawali ceramahnya dengan menjelaskan jika Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim, ulama besar dalam sejarah agama Islam, menyampaikan perspektif yang mendukung bolehnya tahlilan untuk orang yang sudah meninggal.

"Yang membolehkan hadiah Yasin, Fatihah, Tahlil ke mayit itu adalah orang sekaliber Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim," kata Gus Baha.

Menurut Gus Baha, penting bagi muslim untuk memahami jika pandangan Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim ini mengakui keabsahan dari tahlilan.

"Tapi karena kita nggak baca seakan-akan tahlilan itu hanya tradisi lokal, yang tidak di ACC, tidak disetujui ulama kelas internasional. Padahal di sini jelas diceritakan Ibnu Taiyimah berpendapat 'Qiroatul Quran yang dihadiahkan ke mayit atau tahlil itu boleh. Jadi ini sangat penting supaya orang itu pakai tradisi ilmu," tambah Gus Baha.

Namun, ulama yang memiliki kharismatik itu mengingatkan, bahwa jangan menghukumi orang yang tahlilan atau ziarah kubur sebagai kafir. Sebab, lafal La ilaha Illa Allah bisa menjadikan orang kafir menjadi mukmin.

"Lafal Laa ilaaha illaAllah iku kan dadekno wong sing asale kafir dadi mukmin, ora suwalike," katanya.

Baca Juga: Gus Miftah Buka Suara Soal Pasang Tarif Ceramah Sampai Rp 7,5 Miliar

Susunan Tahlil

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI