Suara.com - Memasuki pertengahan bulan Nisfu Sya’ban, banyak orang semakin gencar memanfaatkan keutamaan di bulan ini dengan meningkatkan ibadah. Di antara banyak ibadah yang bisa dilaksanakan, sholat rupanya menjadi salah satunya.
Anjuran sholat di bulan Sya’ban adalah di malam ke-15. Namun, bagaimana hukum sholat di malam Nisfu Syaban?
Jika mengacu pada Kalender Hijriah Indonesia tahun 2024, tanggal 1 Syaban 1445 H bertepatan dengan tanggal 11 Februari 2024. Dengan demikian, malam ke 15 Nisfu Syaban jatuh pada malam Sabtu, 24 Februari 2024.
Hukum shalat Nisfu Syaban
Melansir dari laman NU Online, rupanya sampai saat ini masih ada perbedaan pendapat terkait hukum sholat di malam Nisfu Syaban. Beberapa di antaranya menilai sholat Nisfu Syaban sebagai sunnah, tetapi ada juga yang memakruhkan.
Hukum shalat Nisfu Syaban sebagai sunnah
Salah satu ulama yang memperbolehkan pelaksanaan sholat Nisfu Syaban adalah Imam Al-Ghazali. Hal tersebut tertuang dalam kitab Ihya’ berikut.
وَأَمَّا صَلَاةُ شَعْبَانَ فَلَيْلَةُ الْخَامِسَ عَشَرَ مِنْهُ يُصَلِّي مِائَةَ رَكْعَةٍ كُلُّ رَكْعَتَيْنِ بِتَسْلِيْمَةٍ يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَد إِحْدَى عَشْرَةَ مَرَّةً وَإِنْ شَاءَ صَلَّى عَشْرَ رَكَعَاتٍ يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ مِائَةَ مَرَّةٍ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَد فَهَذَا أَيْضًا مَرْوِيٌّ فِي جُمْلَةِ الصَّلَوَاتِ كَانَ السَّلَفُ يُصَلُّوْنَ هَذِهِ الصَّلَاةَ وَيُسَمُّوْنَهَا صَلَاةَ الْخَيْرِ وَيَجْتَمِعُوْنَ فِيْهَا وَرُبَّمَا صَلَّوْهَا جَمَاعَةً
Artinya “Adapun shalat Sya'ban, maka dilaksanakan di malam tanggal 15 di bulan Sya’ban. Yaitu shalat 100 rakaat, setiap dua rakaat salam dan pada tiap rakaat usai Al-Fatihah, membaca surat qul huallahu ahad (Al-Ikhlash) 11 kali, dan jika mau, ia. bisa melaksanakan shalat 10 rakaat, setiap rakaat usai membaca Al-Fatihah, membaca surat qul huallahu ahad (Al-Ikhlash) 1000 kali.
Baca Juga: Jangan Sembarangan Lho! Ini Dosa yang Tidak Diampuni Allah SWT Saat Malam Nisfu Syaban
Hal tersebut juga diriwayatkan dalam kumpulan shalat yang diamalkan ulama Salaf dan menyebutnya sebagai shalat kebaikan, mereka berkumpul dalam melaksanakannya. Terkadang dilakukan secara berjamaah.” (Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, [semarang, Karya Toha Putra], juz I, halaman 203).