Suzuverse Mengubah Paradigma Metaverse dengan Mengintegrasikan Teknologi AI dan Blockchain

Rabu, 31 Januari 2024 | 17:25 WIB
Suzuverse Mengubah Paradigma Metaverse dengan Mengintegrasikan Teknologi AI dan Blockchain
Ilustrasi Metaverse. (Freepik)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Suzuverse merupakan aplikasi Game-Fi inovatif asal Jepang, yang mengubah paradigma metaverse dengan pengintegrasian teknologi AI dan blockchain. Suzuverse didirikan oleh George Miyauchi, pada 11 Agustus 2022, yang bertujuan untuk menawarkan pengalaman unik yang mencakup penggunaan avatar, permainan games yang menarik, serta peluang untuk memperoleh pendapatan digital (digital income).

“Suzuverse menawarkan sudut pandang baru, perspektif baru, atau bahkan mungkin model bisnis baru yang kemudian merevolusi pemahaman orang mengenai Metaverse,” ujar Antovany Reza, Representative Director of Indonesia, Suzuverse.

Menurutnya, metaverse sering kali  fokus pada pembuatan dunia virtual atau dalam bahasa teknisnya, open world metaverse, tapi ironisnya, hampir semua digital developer menghadapi isu utama, yaitu kurangnya jumlah pengguna aktif. 

Suzuverse menciptakan pintu masuk bagi pengguna dengan menawarkan pengalaman berpusat pada komoditas virtual (virtual goods), seperti hewan peliharaan (virtual pet). Berbeda dengan dunia virtual terbuka, Suzuverse mengajak pengguna untuk mengadopsi hewan peliharaan virtual dan menggabungkannya dengan aktivitas di dunia fisik (mixed reality experience).

Baca Juga: Proyek Metaverse Impian Meta Gagal Total, Rugi Miliaran Dolar

“Suzuverse memperkenalkan konsep yang mengadopsi tren game populer, seperti Pokemon Go, di mana pengguna dapat berinteraksi dengan hewan peliharaan virtual mereka dalam dunia nyata,” jelasnya.

Suzuverse bukan sekadar aplikasi metaverse biasa. Dengan memberikan kebebasan kepada pengguna untuk mengadopsi avatar sebelum memasuki dunia virtual, Suzuverse menciptakan pengalaman berbeda dan bernilai. Pendekatan ini menjadikan Suzuverse sebagai pemimpin dalam merangkul adopsi pengguna terhadap item virtual dan realitas campuran.

Suzuverse tidak hanya menawarkan pengalaman metaverse biasa. Melalui fitur seperti Suzuwalk, atau berjalan untuk mendapatkan penghasilan.

Putu Sutha, Indonesia Celebrity and Running Enthusiast adalah salah satu user yang menggunakan suzuverse sejak dua bulan terakhir. Ia membagikan pengalamannya bermain Suzuverse.

“Suatu hal baru, karena berjalan kaki sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Sejalan dengan itu, ternyata dengan berjalan kaki bisa mendapatkan reward. Cara bermainnya mudah, sehingga menambah semangat untuk berolahraga,” ujarnya.

Baca Juga: Apa Itu Kota Metaverse? Janji Pasangan Prabowo-Gibran Bakal Bangun 10 Kota Metaverse di Indonesia

Selain itu ada fitur Cheercast (AI untuk mengatasi kesepian), Suzuverse memikat pengguna, khususnya di pasar Asia. Dengan 40.000 pengguna global pada tahun 2023 dan pendapatan tahunan lebih dari 25.000.000 Dolar AS, Suzuverse telah menjadi kekuatan global yang mendorong rencana ekspansi ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Di Indonesia, Suzuverse diinisiasi sebagai pionir Game-Fi, yang juga berfungsi sebagai alat bantu untuk meningkatkan kesehatan dan kesadaran literasi keuangan berbasis blockchain.

Terdapat berbagai keunggulan yang dapat dinikmati di Suzuverse, seperti penghasilan dari aktivitas jalan kaki sebesar 4%, bonus afiliasi, dan komisi 10% jika Anda mengajak teman bermain. Bahkan, setiap langkah yang diambil dalam permainan ini dapat menjadi sarana peningkatan kekayaan untuk mendapatkan pendapatan tambahan.

“Bermain di Suzuverse menjadi pilihan yang menarik untuk meraih penghasilan ekstra dengan cara yang menyenangkan,” ujar Reza.

Khusus untuk pengguna di Indonesia, demikian Reza, Suzuverse Indonesia akan beradaptasi dengan kebiasaan lokal, misalnya dengan membuka peluang bagi pengguna Indonesia untuk memiliki kucing (hewan peliharaan terpopuler di Indonesia) avatar sebagai pintu masuknya. 

Dengan memahami perilaku konsumen Indonesia yang tidak terbiasa dengan pembelian game atau produk virtual, Suzuverse mengizinkan pembelian avatar dengan mata uang lokal, dan ini membedakannya dengan proyek Web3 lainnya yang mengharuskan pengguna menggunakan cryptocurrency.

Dengan biaya yang relatif terjangkau, Suzuverse menawarkan adoption fee sebesar Rp 450.000 ($28 Dolar AS) di Indonesia, dibandingkan dengan Jepang yang mematok 42.000 JPY ($280 Dolar AS).

“Ini mencerminkan bentuk penyesuaian daya beli, dan Suzuverse memposisikan sebagai platform Game-Fi yang mudah diakses di negara mana saja, termasuk Asia Tenggara,” ujar Reza.

Reza menyoroti pendekatan inovatif Suzuverse dalam merevolusi metaverse melalui fitur-fitur yang mudah digunakan, market positioning yang strategis, dan entry price point yang terjangkau. Tentu tidak berlebihan kalau Suzuverse berambisi untuk menjadi bagian integral dalam pengembangan ekonomi kreatif dan industri game di Indonesia.

“Dengan Suzuverse, kami ingin memperkenalkan konsep GameFi di Indonesia,” jelasnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI