Suara.com - Efisiensi energi dan biaya operasional yang lebih rendah membuat kendaraan listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) semakin menarik dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil (Internal Combustion Engine/ICE).
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menjelaskan bahwa BEV memiliki tingkat efisiensi energi yang jauh lebih tinggi dibandingkan ICE.
"BEV mengubah sekitar 85-90 persen energi listrik menjadi tenaga, sementara ICE hanya mengonversi sekitar 20-30 persen energi bahan bakar, karena sebagian besar energi terbuang sebagai panas," ujar Yannes dikutip dari ANTARA, Kamis (27/2/2025).
Dari segi biaya operasional, Yannes mencontohkan bahwa kendaraan listrik hanya memerlukan sekitar Rp22.500 untuk menempuh jarak 100 km dengan konsumsi energi rata-rata 15 kWh, jika tarif listrik Rp1.500 per kWh.
Baca Juga: Kebijakan Tarif AS Dorong Relokasi Industri Kendaraan Listrik China ke Indonesia
Sebaliknya, kendaraan berbahan bakar fosil dengan konsumsi 8 liter per 100 km membutuhkan sekitar Rp120 ribu dengan asumsi harga bensin Rp15.000 per liter.
"Penghematan BEV bisa mencapai 80 persen dibandingkan ICE untuk jarak tempuh yang sama," jelasnya.
Selain biaya bahan bakar, perawatan kendaraan listrik juga lebih hemat. Dengan komponen yang lebih sedikit dibandingkan mesin konvensional, BEV tidak memerlukan penggantian oli, busi, atau filter udara.
Perawatan utama lebih berfokus pada sistem pendingin baterai dan rem, sehingga biaya tahunan diperkirakan 30-50 persen lebih murah dibandingkan ICE.
Meski lebih hemat dalam jangka panjang, tantangan utama dalam adopsi BEV masih berkutat pada harga beli yang lebih tinggi dan infrastruktur pengisian daya yang belum merata.
Baca Juga: Geely Gandeng BNI Layani Konsumen di Indonesia
Namun, dengan semakin banyaknya pilihan kendaraan listrik yang lebih terjangkau serta peningkatan kapasitas baterai hingga 400 km per pengisian, kendaraan listrik semakin menjadi pilihan menarik bagi konsumen di Indonesia.