Berbeda dengan Swedia, di Indonesia, mobil dinas masih jadi "raja". Para menteri bisa dapat jatah hingga dua mobil dinas, lengkap dengan sopirnya! Ini diatur dalam PMK 138 tahun 2024 - kontras sekali dengan kesederhanaan ala Swedia, ya?
Pelajaran Berharga
Kisah ini mengajarkan kita bahwa kemewahan bukan ukuran efektivitas kerja. Malah, dengan naik transportasi umum, para pejabat bisa lebih memahami kehidupan rakyatnya. Mereka merasakan langsung bagaimana rasanya berdesakan di kereta di jam sibuk atau menunggu bus yang terlambat.
Mungkin ini saatnya kita bertanya: haruskah mobil dinas mewah jadi simbol status pejabat? Atau justru, kesederhanaan ala Swedia ini yang patut kita tiru?
Yang pasti, Swedia telah membuktikan bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik, yang dibutuhkan bukanlah mobil mewah - melainkan kerendahan hati untuk berbaur dengan rakyat yang dilayani. Siapa sangka, sebuah tiket bus bisa jadi simbol kesetaraan yang begitu powerful?