Suara.com - Nissan dan Honda sedang mendekati merger yang direncanakan akan terjadi pada tahun 2026 jika semuanya berjalan lancar. Langkah besar ini dipastikan akan mengguncang industri otomotif jika terlaksana.
Pasalnya, Ketua Toyota Akio Toyoda menjelaskan bahwa Nissan tidak pernah mendekati mereka untuk "main bareng".
"Nissan tidak mendekati Toyota tentang merger apa pun," kata Toyoda dikutip dari The Drive.
"Namun, bahkan Nissan gabung dengan Toyota, itu pasti akan melanggar undang-undang anti-monopoli. Jadi mungkin mereka pernah mempertimbangkannya, tetapi memutuskan untuk tidak karena hal itu."
Pernyataan tersebut muncul seiring dengan kepemilikan Toyota yang begitu besar atas pangsa pasar secara keseluruhan.
Namun, bukan berarti Toyota iri. Mereka juga memiliki kemitraan sendiri, meskipun dalam skala yang lebih kecil. Toyota bekerja sama dengan Subaru untuk GR86/BRZ dan bZ4X/Solterra EVs.
![Presiden dan CEO Toyota Akio Toyoda saat presentasi prototipe "kota" masa depan di atas lahan seluas 175 hektar di kaki Gunung Fuji di Jepang, dan purwarupa Toyota e-Palette di pameran Consumer Electronics Show (CES) 2020 di Las Vegas , Nevada, Amerika Serikat (6/1/2020) [AFP/Robyn Beck].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/09/14/58362-akio-toyoda.jpg)
Mereka juga memasok mesin hybrid RAV4 ke Mazda dan Supra yang dibangun bersama BMW Z4. Belum lagi kompaknya Toyota bersama Daihatsu juga memudahkan pabrikan ini menguasai segmen mobil dari kelas harga murah hingga yang mahal sekalipun.
Selain itu, Toyota merasa bahwa peningkatan persaingan dari Nissan-Honda hanya akan membuat industri menjadi lebih baik.
"Bagi saya, ini sangat menarik, karena saya menantikan bagaimana mereka akan bekerja sama satu sama lain dan bagaimana mereka akan mengembangkan produk yang lebih kompetitif," kata Toyoda.
Baca Juga: Mewah dan Bertenaga: Ini Daftar Mobil Dinas Para Menteri Era Prabowo
"Jika produk-produk menarik dan kompetitif semacam itu muncul dari merger ini, saya pikir itu adalah hal yang baik untuk persaingan tidak hanya di Jepang tetapi untuk dunia."