Suara.com - Ketika Dharma Pongrekun mengajukan ide kontroversial tentang Jakarta tanpa lampu merah, banyak yang skeptis. Namun, tahukah Anda bahwa ada sebuah ibukota negara yang telah sukses menerapkan konsep serupa? Thimphu, ibukota Bhutan, membuktikan bahwa kota tanpa lampu merah bukan sekadar utopia.
Di tengah era modernisasi global, Thimphu tetap konsisten tanpa lampu lalu lintas. Seperti dilansir dari WorldKings, kota ini mengandalkan sistem bundaran dan petugas lalu lintas yang bertugas di pos-pos strategis. Menariknya, sistem ini justru menciptakan arus lalu lintas yang lebih teratur dan efisien.
Sebelumnya, pemerintah Kota Thimphu pernah membuat lampu lalu lintas. Namun eksperimen ini justru memperburuk situasi. Pengalaman ini membawa mereka kembali ke sistem tradisional yang ternyata lebih sesuai dengan karakteristik kota dan budaya lokalnya.
Apakah visi Dharma Pongrekun tentang Jakarta tanpa lampu merah mungkin terinspirasi dari kesuksesan Thimphu?
Tidak diketahui pasti apakah calon gubernur DKI Jakarta tersebut terinspirasi dari Thimpu. Namun sebelum menerapkannya, terdapat beberapa faktor yang memengaruhinya dalam menciptakan kota tanpa lampu merah diantaranya:
- Perbedaan skala kota dan volume kendaraan
- Adaptasi teknologi modern dengan kearifan lokal
- Peran sumber daya manusia dalam manajemen lalu lintas
- Integrasi dengan sistem transportasi massal
Kesuksesan Thimphu sebagai kota tanpa lampu merah mencerminkan filosofi pembangunan Bhutan yang unik dan berkelanjutan. Negara ini memiliki komitmen luar biasa terhadap pelestarian lingkungan, dibuktikan dengan 70 persen wilayahnya yang masih tertutup hutan, bahkan mengamanatkan dalam konstitusi bahwa minimal 60 persen wilayah negara harus tetap berupa hutan.
Kebijakan ini bukan sekadar aturan tertulis, melainkan manifestasi dari pandangan hidup masyarakat Bhutan yang mengutamakan keseimbangan antara pembangunan modern dan pelestarian alam.

Implementasi konsep kota tanpa lampu merah di Jakarta memerlukan serangkaian adaptasi yang komprehensif dan terencana. Pertama, dibutuhkan pengembangan infrastruktur pendukung yang meliputi pembangunan bundaran pintar, sistem sensor terintegrasi, dan jaringan komunikasi yang handal.
Bersamaan dengan itu, pelatihan intensif bagi petugas lalu lintas menjadi krusial untuk memastikan mereka mampu mengoperasikan teknologi baru dan menangani situasi lalu lintas yang kompleks dengan efektif.
Baca Juga: Tampil Berbeda di Debat Terakhir, Ridwan Kamil: Gubernur Paling Banyak Menggusur Pak Ahok
Program edukasi masyarakat juga harus dijalankan secara masif dan berkelanjutan untuk membangun pemahaman dan kesadaran tentang sistem baru ini, termasuk cara berinteraksi dengan teknologi dan protokol lalu lintas yang berbeda.