Peneliti UI: Pendapatan Per Kapita di Era Jokowi Nyaris Stagnan, Penjualan Mobil Mandek

Liberty Jemadu Suara.Com
Rabu, 10 Juli 2024 | 21:22 WIB
Peneliti UI: Pendapatan Per Kapita di Era Jokowi Nyaris Stagnan, Penjualan Mobil Mandek
Presiden Joko Widodo meresmikan dibukanya GIIAS 2018 serta AMMdes [Suara.com/Muhaimin A. Untung].
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia atau LPEM FEB UI mengungkapkan bahwa stagnannya penjualan mobil di Tanah Air disebabkan leh kondisi pendapatan per kapita selama 10 tahun terakhir yang naik tipis.

Peneliti senior LPEM FEB UI, Riyanto mengatakan hal ini diperparah oleh terus naiknya harga mobil di Indonesia.

"Jadi, temuannya sudah jelas. Pertama, pendapatan per kapitanya tidak naik cukup besar, hanya tiga persen naik dalam 10 tahun terakhir, dan harga mobil naiknya juga di atas inflasi, 5-6 persen. Inflasi kita kan sekarang empat persen," kata peneliti senior dari LPEM FEB UI Riyanto di Jakarta, Selasa (9/7/2024).

Riyanto menjelaskan bahwa penjualan mobil berkaitan erat dengan faktor ekonomi seperti harga mobil, suku bunga kredit, kurs, harga bahan bakar, dan ketersediaan stok mobil. Namun, faktor yang berpengaruh paling signifikan terhadap penjualan mobil adalah harga mobil dan pendapatan per kapita.

Riset yang dilakukan oleh LPEM FEB UI bekerja sama dengan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menemukan pendapatan per kapita hanya naik rata-rata 3,65 persen per tahun dari 2013 hingga 2022. 

Sementara pertumbuhan penjualan mobil selama kurun itu menurun rata-rata 1,64 persen per tahun. 

Sebagai perbandingan, selama periode 2000 hingga 2013 pendapatan per kapita naik rata-rata 28,26 persen per tahun dan penjualan mobil meningkat 21,23 persen per tahun.

Peningkatan penjualan mobil bekas, terutama di Jawa, juga berpengaruh terhadap pertumbuhan penjualan mobil baru.

Pada tahun 2022, sekitar 65 persen pembeli mobil di Jawa memilih mobil bekas, antara lain karena beda harga yang semakin lebar antara mobil baru dan mobil bekas.

Baca Juga: Peserta Membeludak, GIIAS 2024 Harus Perluas Arena Pameran

Ketika harga mobil baru semakin tinggi dan pendapatan per kapita kenaikannya tidak sebanding, mobil bekas menjadi pilihan bagi yang menginginkan kendaraan dengan harga terjangkau.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI