Ia terkenal sebagai sosok karismatik yang menyeimbangkan perannya di dunia motorsport dan kehidupan sehari-hari, dengan menjadi relawan pengemudi ambulans dan paramedis.
Menilik kelebihan para “kompetitor” Seb, apakah yang bisa ditawarkan mantan driver kelahiran Jerman, 3 Juli 1987 ini?
Sederet tokoh yang pernah bekerja sama dengannya menyatakan Sebastian Vettel adalah individu yang sangat cerdas dengan etos kerja yang kuat dan jeli terhadap detail.
Beberapa orang di Aston Martin memuji kerja Sebastian Vettel di balik layar sepanjang musim 2021-2022 saat ia bergabung di sana, sehingga tim berada di trek dan membuat lompatan besar pada 2023.

Dikutip dari media F1 Racing versi cetak terbitan 2015, Seb memiliki kemampuan poliglot mempelajari bahasa secara otodidak. Untuk mengucapkan terima kasih, paling tidak ia bisa dalam 14 bahasa.
Hal ini paling tidak menjadi catatan kemampuan Seb dalam berinteraksi. Utamanya saat berada di tim Ferrari. Setelah sekian tahun memiliki aksen British (saat balapan bersama tim Red Bull Racing yang bermarkas di Britania Raya), ia berbahasa Italiano.
Semasa menjadi driver di tim Ferrari, Seb sampai diingatkan Maurizio Arrivabene–saat itu menjabat sebagai team principal Scuderia Ferrari kini CEO tim sepak bola Juventus–pada 2016 agar fokus balapan. Pasalnya ia memiliki ide begitu banyak bagi tim.
![Prinsipal Red Bull Racing, Christian Horner (kiri), dan Sebastian Vettel saat keduanya masih kerja bareng di Red Bull [AFP/Giuseppe Cacace]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2016/07/21/o_1ao6j63tmdkt6bp8h41e0js0ra.jpg)
Sekarang, mungkin saja kesempatan untuk menjadi komandan tim F1 terbuka.
Meski di sisi lain juga perlu dikaji. Beberapa kabar menyatakan, kesadaran Sebastian Vettel akan lingkungan hidup membuatnya undur diri sebagai pembalap.
Baca Juga: Balap Formula E Ungguli F1 untuk SChI
Sebagai wacana, simak sederet kebiasaan Seb di pentas F1. Seperti ke venue pakai sepeda pancal atau kayuh, sampai mengumpulkan sampah di tribun penonton selesai balapan.