Suara.com - Saat ini, konflik di Laut Merah tengah bergejolak. Pabrik mobil listrik atau Electric Vehicle (EV) kenamaan Amerika Serikat, Tesla Incorporation yang dipimpin Elon Musk mengalami dampaknya.
Laut Merah adalah jalur pelayaran penting yang menghubungkan Eropa, Afrika, dan Asia. Rute ini menyumbang hampir 12 persen dari lalu lintas perdagangan global melalui laut.
Kelompok Houthi Yaman atau Kelompok Hutsi–sebuah gerakan Islam politik bersenjata–melakukan serangan terhadap kapal-kapal komersial di Laut Merah.
![Cuplikan rekaman dari selebaran yang dirilis oleh Pusat Media Houthi Ansarullah Yaman, menunjukkan anggota kelompok pemberontak Houthi saat menangkap sebuah kapal kargo yang terkait dengan Israel di lokasi yang tidak ditentukan di Laut Merah, Senin (19/11/2023). [ANSARULLAH MEDIA CENTRE / AFP]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2023/11/22/30185-pembajakan-kapal-israel-oleh-pemberontak-houthi-yaman.jpg)
Dikutip dari kantor berita Antara, pihak militer Amerika Serikat menyatakan sejak 19 November Houthi telah melancarkan 27 serangan di Laut Merah.
Sebagai balasannya, militer Amerika Serikat dan Britania Raya melancarkan serangan rudal yang menyasar kelompok Houti Yaman pada Jumat (12/1/2024) pagi.
Situasi yang ditimbulkan Houthi tadi menyebabkan perusahaan-perusahaan logistik terpaksa menggunakan rute alternatif. Akibatnya terjadi kenaikan tarif pengiriman dan penundaan pengiriman.
Produsen mobil listrik, Tesla, mengatakan akan menghentikan sementara produksi mereka di pabriknya di Jerman selama dua pekan. Pasalnya terjadi gangguan rantai pasokan imbas konflik yang sedang berlangsung di Laut Merah.
“Karena kekurangan komponen, kami terpaksa menghentikan produksi kendaraan di GigaBerlin pada 29 Januari hingga 11 Februari, dengan pengecualian pada beberapa bagian-bagian tertentu,” jelas Tesla dalam pernyataannya, yang meluncur Kamis (11/1/2024).
Produksi akan berlanjut pada 12 Februari, demikian bunyi pernyataan itu.
Sebagai catatan, Tesla Giga Factory di Jerman adalah pabrik EV yang dibangun Tesla setelah sukses memiliki pabrik di Shanghai, Tiongkok.