Mengingat masih minimnya stasiun pengisian daya, dalam perjalanan bus listrik dikondisikan kecepatan maksimal 70 km per jam. Tujuannya menghemat daya baterai.
"Proses penambahan daya bus listrik ini membutuhkan tiga hingga empat jam, dari kondisi nol persen hingga 100 persen. Durasi charging lebih singkat jika kondisi baterai di atas 50 persen saat dilakukan penambahan daya. Jadi, jika stasiun pengisian kendaraan listrik sudah banyak tersedia sepanjang tol Transjawa, saya yakin perjalanan akan lebih menghemat waktu," tandas Gilarsi W. Setijono.
Sebelumnya, PT VKTR menandatangani kerja sama dengan berbagai pihak. Seperti produsen bus listrik terkemuka dunia BYD Auto, produsen baterai ramah lingkungan asal Inggris, BritishVolt, perusahaan karoseri Tri Sakti, perusahaan teknologi heavy mobility dari Inggris Equipmake, serta berbagai pihak lainnya.
Kerja sama dengan berbagai pihak, mulai produsen kendaraan listrik, produsen baterai, manufaktur, sampai lembaga perguruan tinggi menjadi salah satu cara yang ditempuh PT VKTR demi keinginan untuk melakukan lokalisasi teknologi.
"Kami ingin memastikan, ekosistem elektrifikasi transportasi di Indonesia dibangun secara lengkap dan
tidak setengah-setengah, dari hulu hingga ke hilir. Kami membangun tidak hanya fasilitas pembuatan badan busnya, namun kami pikirkan fasilitas pembuatan sasis dan teknologi mekatronika serta hal-hal lainnya," jelas Gilarsi W. Setijono.
Untuk pengembangan telematika, PT VKTR bersama PENS akan melakukan studi secara mendalam terhadap aspek telekomunikasi dan informatika yang ada di dalam kendaraan listrik.
Sementara sektor mekatronika, studi akan banyak difokuskan kepada aspek teknik mesin, teknik listrik dan perangkat lunak yang ada di dalam kendaraan listrik.
"Dari studi ini, insyaAllah di masa mendatang kami akan mampu mengembangkan aspek telematika dan mekatronika dari kendaraan listrik secara mandiri," kata Gilarsi W. Setijono.
Baca Juga: MAB Siap Rilis Bus Listrik Baru di PERIKLINDO Electric Vehicle Show
Kerja sama ini juga menjangkau studi yang akan memungkinkan PT VKTR dan PENS membangun industri yang mampu melakukan konversi alat transportasi publik dari mesin berbahan bakar energi fosil menjadi kendaraan listrik.