- Orangutan Sempurna mati di Ketapang pada Jumat, 4 September 2026, akibat gangguan pernapasan dari asap karhutla.
- Usman Husin mendesak Kementerian Kehutanan melakukan pemadaman total di titik api untuk menyelamatkan satwa liar.
- BKSDA Kalbar bersama YIARI sempat memberikan pertolongan medis darurat namun nyawa satwa dilindungi itu tidak tertolong.
Suara.com - Insiden kematian seekor orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) bernama Sempurna di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, memicu keprihatinan mendalam.
Satwa dilindungi tersebut mengembuskan napas terakhir setelah sebelumnya ditemukan pingsan dengan gangguan pernapasan akut yang diduga kuat akibat terpapar asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Menanggapi hal itu, Anggota Komisi IV DPR RI, Usman Husin, menyoroti tajam peristiwa ini. Menurutnya, kepungan asap tebal di Kalimantan sudah masuk pada tahap yang mengancam seluruh ekosistem, tidak hanya manusia tetapi juga satwa liar.
"Akibat kebakaran hutan di Kalimantan, asap yang begitu tebal mengakibatkan matinya orang utan yang menghirup udara penuh asap. Kementerian Kehutanan harus segera mengatasi persoalan ini untuk menyelamatkan orang utan dari sengatan asap kebakaran hutan," ujar Usman Husin kepada wartawan, Jumat (4/9/2026).
Ia menegaskan, bahwa penanganan karhutla oleh Kementerian Kehutanan tidak boleh lagi dilakukan setengah-setengah.
Usman pun mendesak upaya pemadaman total di titik-titik api guna menghentikan produksi asap yang meracuni makhluk hidup.
"Harus dilakukan pemadaman total agar tidak ada asap lagi. Kementerian Kehutanan harus segera melakukan pemadaman karena dampak asap sangat membahayakan bagi kehidupan setiap makhluk yang menghirupnya," tegasnya.

Selain mendesak aksi cepat di lapangan, Usman juga meminta pemerintah untuk tidak ragu dalam menegakkan hukum.
Ia menuntut adanya konsekuensi hukum bagi pihak-pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya kebakaran lahan.
"Harus sanksi tegas," pungkasnya.
Untuk diketahui, berdasarkan laporan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Sempurna ditemukan warga dalam kondisi lemah dan tidak sadarkan diri.
Pihak BKSDA bersama Yayasan IAR Indonesia (YIARI) sempat berupaya memberikan pertolongan medis darurat, namun nyawa orang utan tersebut tidak tertolong.
Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menyampaikan rasa duka atas kegagalan menyelamatkan primata tersebut.