Sasmito mengaku baru mengetahui unggahan tersebut dan menyampaikan kekhawatirannya terkait dampak hoaks ini terhadap masyarakat.
“Tentu ini khawatirnya membuat informasi yang keliru di publik. Orang bisa berpandangan seperti yang disampaikan di media sosial, dan itu bisa menjadi upaya adu domba. Saya juga khawatir narasi ini memperkeruh situasi di masyarakat,” katanya.
Lebih lanjut, ia meyakini bahwa rekan-rekan jurnalis di Tempo memahami bahwa unggahan tersebut bukan merupakan pernyataannya. Namun, ia mengkhawatirkan dampaknya terhadap masyarakat luas yang tidak mengenal dirinya secara langsung.
Polanya Mirip dengan Serangan Disinformasi Sebelumnya
Sasmito Madrim sebelumnya juga pernah menjadi korban serangan disinformasi, termasuk pada tahun 2022 ketika ia difitnah sebagai pihak yang menentang perlawanan Haris Azhar dan Fathia terkait kriminalisasi, serta menentang perjuangan warga Wadas.
Ia melihat ada pola serangan yang mirip dalam hoaks kali ini.
“Konten kali ini kurang lebih sama, bermuatan politik. Tidak tahu penyebabnya seperti apa. Yang jelas, dalam beberapa hari terakhir kami di Koreksi.org mengkritik liputan soal TNI menambah Kodam dan intens membahas RUU TNI disertai diskusi publik beberapa hari lalu,” ungkapnya.
Klarifikasi melalui Media Sosial
Sebagai bentuk klarifikasi, Sasmito juga mengunggah pernyataan di akun Instagram pribadinya.
Ia menegaskan bahwa narasi yang menyertakan fotonya dengan tuduhan terhadap Bocor Alus adalah hoaks.
“Saya yang bernama Sasmito ingin menegaskan bahwa konten yang beredar di media sosial yang menyertakan foto saya dengan narasi fitnah ke tim Bocor Alus adalah sesat,” tulisnya.
Baca Juga: Cek Fakta: Foto Jokowi Berada di Dalam Sel Tahanan
Ia juga membantah tuduhan bahwa Tempo mendukung pemecatannya dari VOA dan menegaskan bahwa Bocor Alus bukanlah program yang bertujuan memecah belah bangsa.