Suara.com - Pengamat Politik, Rocky Gerung menilai bahwa Presiden Prabowo Subianto mulai diisolasi oleh lingkaran dalamnya yang masih dipenuhi oleh orang-orang dari pemerintahan sebelumnya.
Hal ini, menurutnya, membuat tuntutan mahasiswa dan koalisi masyarakat sipil tidak tersampaikan secara utuh kepada Prabowo, sehingga respons yang diberikan kerap tidak sesuai dengan harapan publik.
"Saya menduga bahwa banyak problem atau inti masalah dari protes gerakan ini yang tidak sampai secara utuh di dalam pikiran Pak Prabowo karena mungkin disensor oleh kalangan dalamnya," ujar Rocky dalam siniar di akun Youtube Rocky Gerung Official dikutip Suara.com, Jumat (28/2/2025).
Gerakan mahasiswa dan akademisi yang kembali menyerukan reformasi dan pembersihan kabinet dari pemerintahan sebelumnya semakin masif.
![Pengamat politik Rocky Gerung [Foto: YouTube Rocky Gerung]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/02/26/12701-pengamat-politik-rocky-gerung.jpg)
Namun, langkah yang diambil Prabowo, seperti hanya merombak satu posisi menteri sejauh ini, dianggap belum cukup untuk menjawab keresahan publik.
Rocky menilai, ada kemungkinan besar bahwa para komunikator politik di sekitar Prabowo tidak mampu merumuskan secara tepat isu-isu yang diangkat oleh mahasiswa dan masyarakat sipil.
"Sehingga Prabowo tidak dapat sense of urgency untuk memenuhi tuntutan dari kalangan akademisi, mahasiswa, dan dosen hari-hari ini," tambahnya.
Rocky juga mengkritik soal sikap Prabowo yang belakangan getol memuji-muji Jokowi.
Menurutnya, hal tersebut menimbulkan kesan bahwa tidak terjadi suksesi kepemimpinan yang nyata, melainkan hanya pewarisan kekuasaan dari Jokowi ke Prabowo.
"Kalau dipuji di dalam keadaan yang mencukupi, mungkin orang 'oke, Pak Jokowi ada prestasinya'. Tetapi kalau terus-menerus diungkapkan bahwa kehadiran Pak Jokowi tidak mungkin diabaikan di dalam rezim hari ini, maka orang akan anggap bahwa suksesi memang tidak terjadi," jelasnya.
Dalam diskusinya dengan mahasiswa, Rocky bahkan menyebut adanya anggapan bahwa Prabowo telah "kesirep" atau terhipnotis oleh pengaruh Jokowi.
Istilah tersebut mencerminkan kekecewaan publik terhadap pemerintahan baru yang dianggap belum menunjukkan arah kepemimpinan yang mandiri.
"Orang tak menduga bahwa ada bayang-bayang Jokowi di dalam pengarahan itu. Supaya itu tidak terlihat dan memang tidak etis sebetulnya, kalau dalam bahasa yang terlalu sadis, cawe-cawe Jokowi masih hadir di dalam kabinet Pak Prabowo," lanjut Rocky.
Namun, ia juga mengakui bahwa Prabowo mulai memberikan sinyal untuk mengoreksi hal ini. Salah satu pernyataan Prabowo yang dianggap sebagai indikasi perubahan arah adalah saat ia menegaskan bahwa anggota kabinetnya yang tidak mampu menjalankan tugas bisa mundur.
"Itu juga tanda yang bagus, tetapi tanda-tanda retorik itu harus diikuti dengan tindakan yang lebih kentara, supaya orang tahu bahwa jejak pikiran Pak Prabowo searah dengan tindakan politiknya," tutup Rocky. (Kayla Nathaniel Bilbina)