Suara.com - Kebanyakan warga Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, tampak sudah terbiasa dengan banjir rob atau naiknya permukaan air laut. Banjir rob tak melumpuhkan aktivitas warga di kawasan itu.
“Banjir di kawasan Muara Angke terjadi sejak Kamis (9/1) lalu di sejumlah RT di RW 22 Kelurahan Pluit, tapi genangan rob itu tidak sampai melumpuhkan aktivitas warga,” ujar Kepala Satuan Tugas Jakarta Utara BPBD DKI Jakarta, Aries Trisna Putra, Selasa (14/1/2025).
Aries mengatakan fenomena rob memasuki permukiman warga biasa terjadi mulai sekitar pukul 06.00 WIB. Kemudian ketinggian air terus bertambah hingga puncaknya berada di kisaran 60 sentimeter pada titik terdalam jelang siang hari.
Kemudian kata dia, air berangsur surut pada siang dan biasanya benar-benar tuntas sore menjelang malam. Selama hampir sepekan ini, fenomena rob paling cepat surut sekitar pukul 16.00 WIB dan esoknya kembali berulang.
Aries menerangkan selama kondisi genangan rob, pihaknya menyiagakan lima personel di lokasi dan melakukan pemantauan perkembangan genangan.
“Kami juga telah menurunkan dua unit perahu karet untuk membantu warga yang ingin beraktivitas keluar masuk permukiman melintasi area genangan,” kata dia.
Sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan kenaikan tinggi muka air laut yang memicu kondisi genangan rob itu masih akan terjadi hingga 17 Januari mendatang.
BMKG menyampaikan ketinggian genangan rob di permukiman warga diperkirakan tidak akan meningkat signifikan bila tidak dibarengi oleh kondisi hujan deras dalam waktu lama.
Ia mengaku sejak Desember 2023 telah berkoordinasi dengan jajaran terkait seperti TNI, Kepolisian dan Satpol PP untuk melakukan langkah tanggap bencana.
Baca Juga: Datangi Warga Terdampak Rob, Saan Mustopa Ingin Bangun Kampung Nelayan Bagi Warga Dusun Sarakan
Pihaknya pun telah menyiapkan skema evakuasi sebagai opsi terburuk.