Suara.com - Gencatan senjata yang dilakukan Hizbullah-Israel di Lebanon mendapatkan sambutan dari anggota kantor politik Hamas, Basem Naim.
Dia mengatakan gencatan senjata yang dilakukan Hizbullah dan Israel bukan merupakan pengkhianatan atas keputusan tersebut.
"Bukan hanya Hizbullah yang membuat keputusan itu. Jika rakyat Lebanon memutuskan bahwa mencapai kesepakatan dengan Israel adalah demi kepentingan mereka, itu tidak masalah bagi kami, karena tujuan kami bukanlah agar Netanyahu menghancurkan Lebanon," katanya kepada surat kabar Italia Repubblica, Rabu.
Namun Naim mengatakan bahwa "kesepakatan apapun dengan Lebanon, Yaman atau Iran tidak akan menjamin keamanan di kawasan.
Baca Juga: ICC Keluarkan Surat Penangkapan Kepala Junta Myanmar, Ini Penyebabnya
Tidak akan ada perdamaian hingga masalah Palestina terselesaikan."
Sebelumnya pada Selasa malam, dengan muara mutlak, Kabinet Keamanan Israel menyetujui perjanjian gencatan senjata dengan Lebanon.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memandang perlu gencatan senjata, seraya menambahkan bahwa Israel akan menanggapi setiap kemungkinan dimulainya kembali permusuhan.
Selain itu, Presiden AS Joe Biden juga mengumumkan pada Selasa bahwa Pemerintah Israel dan Lebanon telah menyetujui usulan gencatan senjata dari Washington, yang mencakup penarikan tentara Israel dari Lebanon dalam waktu 60 hari.
Berdasarkan rencana tersebut, angkatan bersenjata Lebanon akan menguasai Lebanon selatan, sedangkan Hizbullah akan merelokasi para pejuangnya ke utara Sungai Litani.
Sementara itu, sebuah komite internasional yang dipimpin Amerika Serikat akan dibentuk untuk memantau kepatuhan kedua pihak terhadap ketentuan perjanjian gencatan senjata tersebut. (Antara).
Baca Juga: Serangan Udara Israel Guncang Beirut Jelang Gencatan Senjata