Bayang-bayang Kasus Stunting di Yogyakarta Karena Ancaman Anemia dan Asap Rokok

Senin, 28 Oktober 2024 | 18:21 WIB
Bayang-bayang Kasus Stunting di Yogyakarta Karena Ancaman Anemia dan Asap Rokok
Ilustrasi anak stunting di Yogyakarta (Suara.com)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Kementerian Kesehatan mengimbau pemerintah daerah tingkat kota/kabupaten juga fokus pada pencegahan dengan menerapkan protokol pencegahan stunting yang ideal, yakni membantu ibu hamil, bayi di bawah dua tahun (baduta) dan ibu menyusui.

Hal inilah yang terus diupayakan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta. Dalam tiga tahun terakhir, angka stunting di Kota Yogyakarta terus mengalami penurunan dan berada di atas target nasional. Berdasarkan data Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kota Yogyakarta, angka stunting di Kota Yogyakarta pada tahun 2022 tercatat sebesar 13,8 persen. Di tahun 2023, tercatat angka stunting sebesar 11,76 persen atau sebanyak 1.254 balita. Sementara itu, merujuk data terbaru per Agustus 2024 tercatat angka stunting 10,45 persen atau sebanyak 1.089 balita.

Prevalensi stunting di Yogyakarta (Olah Data Dinkes Kota Yogyakarta)
Prevalensi stunting di Yogyakarta (Olah Data Dinkes Kota Yogyakarta)

Merujuk pada data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta, per Mei 2024 terdapat 15 kelurahan di Kota Yogyakarta yang memiliki angka stunting di bawah target 12 persen. Kelurahan dengan angka stunting tertinggi adalah Kelurahan Purbayan dan yang terendah adalah Kelurahan Wirobrajan.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta, Retnaningtyas mengatakan, kasus stunting di Kota Yogyakarta disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari persoalan sosial dan ekonomi, pemenuhan makanan bergizi dan pola pengasuhan anak yang keliru.

"Ada yang anaknya cuma dikasih makanan instan, ada yang karena pola pikir merasa 'Oh ini anakku kecil karena turunan saya dulu kurus'. Jadi perilaku dan mindset, ekonomi juga sehingga kita harus kolaborasi banyak pihak agar semua bisa teratasi," ujar Retnaningtyas saat dihubungi Suara.com, Kamis (25/10/2024).

Retnaningtyas yang juga menjadi Wakil Ketua TPPS Kota Yogyakarta ini menjelaskan, Kota Yogyakarta telah memiliki berbagai program kolaborasi yang terus bekerja sama mencapai target besar penurunan angka stunting.

Deteksi Paparan Rokok untuk Cegah Risiko Anak Stunting

Upaya mengatasi kasus stunting tidak hanya berfokus pada penanganan anak yang sudah terdampak, tetapi juga mengutamakan pencegahan sejak usia remaja. Koordinator Bidang Perubahan Perilaku TPPS Kota Yogyakarta, Herristanti menyatakan, Tim TPPS bekerja sama dengan dinas terkait untuk melakukan pemeriksaan kesehatan pada remaja putri yang mengalami anemia dan memberikan suplementasi tablet tambah darah guna memperbaiki kondisi mereka.

“Remaja putri yang mengalami anemia berisiko melahirkan bayi stunting saat dewasa. Oleh karena itu, pendekatan harus dimulai dari hulu,” kata Herristanti.

Menurut data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta tahun 2023, sekitar 29,5 persen remaja putri di Kota Yogyakarta mengalami anemia, hampir menyentuh angka anemia pada remaja nasional sebesar 30 persen. Karena itu, Pemerintah Kota Yogyakarta memperkuat upaya pencegahan stunting sejak dini, salah satunya melalui Program Aksi Bergizi yang ditujukan kepada sekolah menengah di Kota Yogyakarta. Program ini mencakup berbagai kegiatan, seperti senam atau aktivitas fisik bersama, sarapan dengan menu gizi seimbang, konsumsi tablet tambah darah bersama serta edukasi kesehatan dan gizi. Melalui program ini, pemerintah memastikan agar remaja putri membiasakan pola makan gizi seimbang dan rutin mengonsumsi tablet tambah darah untuk mencegah anemia.

Pencegahan stunting juga dilakukan sejak calon pengantin (catin) pria dan wanita mempersiapkan pernikahan. Pemerintah Kota Yogyakarta bekerja sama dengan Kantor Urusan Agama (KUA) di bawah naungan Kementerian Agama untuk melakukan pemeriksaan kesehatan pada catin yang berisiko melahirkan anak stunting. Setiap catin yang mendaftarkan pernikahan diwajibkan menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mengetahui kondisi mereka. Hingga Agustus 2024, tercatat sebanyak 853 catin di Kota Yogyakarta telah menjalani pemeriksaan kesehatan dan pendampingan pranikah.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI