Saat masih aktif sebagai tentara, AM Putranto memiliki prinsip bekerja sebagai prajurit profesional. Ia menolak ikut berpolitik.
Dalam buku "Letjen TNI AM Putranto Bekerja Dengan Hati, Profesional, Selalu Bersyukur" dikisahkan bagaimana Putranto saat masih menjadi Dankodiklatad didekati Sekjen salah satu partai politik (parpol).
"Dua kali sang sekjen mendatangi AM Putranto saat masih menjadi Dankodiklatad. Intinya politisi itu ingin AM Putranto lebih dekat dengan salah satu tokoh di negeri ini yang juga ketua umum parpol," tulis Sahrudi dkk.
Sang politisi membujuk AM Putranto dengan mengimingi kenaikan pangkat menjadi jenderal penuh. Kepada Putranto, sekjen parpol itu mengatakan, "Pangkat anda tinggal satu klik untuk menjadi bintang empat."
AM Putranto ternyata tidak tertarik sama sekali terhadap tawaran politisi tersebut. Bahkan pria kelahiran 26 Februari 1964 itu menolak keras permintaan tersebut.
"Saya bilang yang menentukan itu bukan kalian, yang menentukan Tuhan. Kalaupun pangkat saya saat ini bintang tiga adalah rasa syukur saya, yakin bahwa yang saya lakukan ini bukan karena orang lain, semua itu karena Tuhan," ujarnya dengan nada tinggi.
Sejak itu sekjen parpol tersebut tidak pernah lagi menghubungi AM Putranto. Tak ada penyesalan di hati Putranto menolak tawaran tersebut. Padahal AM Putranto harus pensiun dari TNI sebelum waktunya.
Putranto pensiun dari TNI ketika usianya masih 55 tahun sementara usia pensiun seorang perwira TNI bisa sampai 60 tahun. Walau harus pensiun sebelum waktunya, Putranto mengaku tetap bersyukur.
"Bahkan ketika tahu (pensiun) belum waktunya, saya dipeluk istri saya sambil bilang, 'mas sabar mungkin ini yang terbaik buat kita," cerita AM Putranto.
Baca Juga: Moeldoko Bicara Nasib KSP Usai Jokowi Tak Lagi Jadi Presiden