"Konten berbahasa Ngpak ini juga merupakan pembeda, Panturapost.com ingin menjadi pembeda dari media online lokal lainnya. Kami juga berkolaborasi menggandeng sastrawan lokal untuk mentranslate ke bahasa ngapak," paparnya.
Beberapa konten berbahasa Ngapak di media Panturapost.com di antaranya Rubrik Moci yang sejatinya merupakan tradisi berkumpul minum teh, rubrik tersebut berisi cerpen berbahasa lokal.
Ada juga rubrik Warta ngapakyang merupakan konten berita yang sudah tayangdi terjemahkan ke bahasa ngapak serta kamus bahasa tegalan.
Sementara, Founder Bincang Perempuan Betty Herlina mengungkapkan, Bincang perempuan menyasar pembaca perempuan berusia 18-24 berbasis di Bengkulu.
"Alhamdulillah banyak pihak yang membantu, Untuk medsos kami sejauh ini sudah sesuai target perempuan usia 18-24. Namun untuk pembaca web kita didominasi oleh pembaca dari Jakarta, sedangkan kita mau perempuan bengkulu bisa membaca portel kami sesuai target," paparnya.
Ia juga memaparkan terdapat 20-30 persen pembaca laki-laki yang membaca artikel-artikel seputar perempuan. Untuk memaksimalkan pembaca Bincang Perempuan, pihaknya akan mengadakan pertemuan sebulan sekali untuk berbincang soal permasalah perempuan dan menyelesaikannya bersama-sama.
"Ternyata banyak perempuan tidak punya teman untuk cerita. Kita akan membuat sharing, kita buat chalange, berani speak up tentang mereka dengan #bincangperempuan," pungkasnya.
Dalam kesempatan yang sama Founder Ekuatoriual.com, Nora arifin mengungkapkan, Ekuatorial adalah media berbasis lingkunganyang berada di Jakarta.
"Kita lebih banyak membahas soal isu lingkunga di Jakarta. Ini adalah kolaborasi, krisis lingkungan adalah masalah global. maka penting melibatkan masyarkat, jangan ada kesenjangan informasi," paparnya.
Baca Juga: Arkka Dhiratara Ungkap Pentingnya Data dalam Penerapan AI
Nora mengungkapkan, Ekuatorial juga membuat inovasi #ekotalk yang merupakan live mingguan dengan beragam narasumber dan topik dengan audience dan stake holder.