“Ini baru Istana Garuda bukan Istana Kelelawar ,” komentar @al***
“Yg Hujat IKN ,tawain ajaa .. coba anda2 yg mendesign nya? Bisa gak di aplikasikan di media besar gitu? Udah bagus kah?? Wkwk ini mah keren uyy,” sahut @me***
“Dulu wktu belum ada IKN boro2 ada kantor bupati atau lainnya bangunan nya gak ada yg melambangkan burung Garuda..sekrng udah ada IKN berlomba lomba menirunya ...bahkan nyinyir seperti kelewar lah dan lain2,” ujar @lu***
Istana Garuda IKN Buatan Siapa?
Bangunan ikonik berbentuk burung Garuda dengan sayap yang mengepak di Ibu Kota Nusantara (IKN) bukan sekadar simbol, melainkan sebuah perwujudan dari filosofi mendalam tentang perlindungan dan kebesaran bangsa Indonesia. Desain megah ini adalah karya dari seniman kenamaan I Nyoman Nuarta, seorang pematung asal Bali yang telah lama dikenal dengan karya-karya monumentalnya.
Desain Istana Garuda yang menyerupai burung Garuda yang sedang memeluk, mengandung filosofi perlindungan terhadap seluruh bangsa Indonesia. Bangunan ini bukan hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga menyiratkan kekuatan dan kewibawaan, mencerminkan semangat persatuan yang diusung oleh nusantara.
I Nyoman Nuarta, lahir di Tabanan, Bali pada 14 November 1951, adalah sosok di balik pembuatan patung Garuda di Istana Negara IKN. Berpengalaman dalam dunia seni patung, Nuarta menggunakan material perunggu untuk membangun patung Garuda ini. Material tersebut kemudian diberi cairan khusus, yang seiring waktu akan berubah menjadi hijau akibat proses oksidasi, memberikan kesan alami dan menambah nilai estetika pada patung tersebut. Material perunggu yang digunakan merupakan material yang sama yang digunakan dalam pembuatan Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK), salah satu karya monumental Nuarta lainnya.
Nuarta, yang memeluk agama Hindu, telah menempuh pendidikan seni patung di Institut Teknologi Bandung setelah sebelumnya mendalami seni lukis. Dedikasinya terhadap seni telah membawanya terlibat dalam berbagai proyek besar pemerintahan, termasuk Patung GWK yang terkenal. Patung setinggi 122 meter ini bahkan dinobatkan sebagai patung tertinggi di Indonesia, mengungguli Monumen Jalesveva Jayamahe di Surabaya.