Ani menjelaskan, pihaknya melakukan intervensi spesifik sesuai dengan siklus hidup, mulai dari remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, balita, hingga anak usia prasekolah.
- Remaja Putri: Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) dan skrining Hb pada semua remaja putri serta tata laksana anemia di sekolah kelas 7 dan kelas 10.
- Calon Pengantin: Skrining dan edukasi kesehatan serta tata laksana masalah kesehatan calon pengantin.
- Ibu Hamil: Pelaksanaan Antenatal Care (ANC) 10T dengan pelayanan USG Obstetrik dasar terbatas di Puskesmas dan pemantauan ibu hamil risiko tinggi serta komplikasi.
- Ibu Menyusui: Edukasi pemberian ASI Eksklusif dan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) serta layanan kontrasepsi (KB) pascapersalinan.
- Balita: Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan oleh Dinkes DKI, pemberian imunisasi dasar lengkap sampai lanjutan, PMT, dan vitamin A.
- Anak Usia Prasekolah: Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan lewat PAUD serta pembagian obat cacing untuk mencegah cacingan.
"Untuk intervensi sensitif, Dinas Kesehatan melakukan upaya kelurahan bebas Buang Air Besar Sembarangan (BABS)," imbuh Ani.
Sementara itu, Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta Israyani mendukung berbagai langkah Pemprov DKI untuk mencegah penambahan kasus stunting. Menurutnya, salah satu upaya efektif adalah menggencarkan pemberian suplemen vitamin dan nutrisi.
Israyani pun menekankan pentingnya mengoptimalkan kinerja petugas Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di setiap kecamatan dan kelurahan. Upaya menurunkan angka stunting tidak cukup hanya fokus pada pemenuhan gizi balita, cara pengasuhan seribu hari pertama kehidupan harus diperhatikan pula. Periode tersebut diyakini sebagai periode emas yang sangat penting bagi perkembangan otak dan pertumbuhan fisik anak."Nah, itu jadi satu titik evaluasi kita, supaya kita semua mendapatkan hasil penurunan yang optimal," pungkasnya.