Sejarah Di Balik Kenikmatan Bubur Asyura Tiap 10 Muharram

Jum'at, 12 Juli 2024 | 17:09 WIB
Sejarah Di Balik Kenikmatan Bubur Asyura Tiap 10 Muharram
Tradisi memasak bubur Asyura di Kudus, Jawa Tengah, masih dilakukan setiap 10 Muharram. (Dok. ANTARA)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Perayaan Hari Asyura dirayakan tiap 10 Muharram. Berbagai tradisi, acara, dan doa dipanjatkan untuk menyambut datangnya tahun baru ini

Perayaan ini juga identik dengan hidangan bubur Asyura. Hidangan khas tersebut ternyata tak hanya menjadi tradisi, namun juga penuh makna.

Bubur Asyura merupakan bentuk pengungkapan rasa syukur manusia atas keselamatan yang selama ini diberikan oleh Allah SWT.

Bubur ini dibuat dari 9 bahan antara lain beras, jagung, kacang hijau, kacang kedelai, kacang tolo, ketela pohon, kacang tanah, pisang dan ubi jalar. Bubur lalu diberi bumbu gulai, daun pandan, serai dan bumbu lainnya.

Pembuatannya memakan waktu lama, bisa sampai 3 jam. Bubur nantinya disajikan di piring beralas daun pisang. Warga lalu bisa menikmatinya bersama-sama.

Bubur asyura adalah bubur khas Melayu yang berasal dari Kepulauan Riau. Biasanya bubur ini disajikan dalam mangkuk besar untuk 4 orang, baru dilengkapi mangkuk-mangkuk kecil untuk menyantapnya.

Umat biasanya menikmati bubur ini ramai-ramai di masjid atau dikirimkan ke rumah untuk warga yang tak bisa ke masjid.

Bubur asyura memiliki makna terkait nilai sosial. Sebab, cara pembuatan bubur Asyura melibatkan banyak orang yang memunculkan solidaritas.

Lalu ada nilai budaya dimana tradisional ini menjadi salah satu sarana upacara keagamaan yang telah dilakukan secara turun temurun.

Baca Juga: Ayah Thariq Tolak Salaman dengan Aaliyah, Seperti Apa Hubungan Mertua dan Menantu dalam Islam?

Sejarah Bubur Asyura

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI