BSI awalnya berdiri dengan nama PT Bank Djasa Arta dan berkantor pusat di Jalan Suniaradja no. 24B, Bandung, Jawa Barat. Bank ini mulai beroperasi sejak 3 Juli 1969.
Di awal bank ini memiliki empat kantor cabang serta dikelola oleh Darmawan Tanudjaja dkk.
Pada awal 90-an, bank ini diakuisisi 51% sahamnya oleh Awong Hidjaja, pemilik perusahaan tekstil Panasia, dengan sisanya dimiliki beberapa pemegang saham lain.
Nama bank kemudian berubah menjadi PT Bank Jasa Arta pada 1994. Tiga tahun kemudian, berganti lagi menjadi Bank Panasia Internasional, namun batal.
Diakuisisi BRI
Pada Desember 2001, BRI memiliki unit usaha syariah karena adanya permintaan besar pasar. Unit usaha syariah BRI saat itu tumbuh cukup lambat.
Hingga kemudian direksi BRI memiliki rencana untuk membidik dua bank kecil untuk diakuisisi, yaitu PT Bank Jasa Arta dan PT Bank Harmoni Internasional.
Pada Juni 2007, BRI resmi membeli Bank Jasa Arta. Proses akuisisi kemudian resmi dilakukan pada 19 Desember 2007, dengan BRI mengambilalih PT Bank Jasa Arta dari tangan Awong Hidjaja dan dua perusahaan miliknya (PT Panasia Synthetic Abadi dan PT Panasia Intertraco)[7] seharga Rp 61 miliar.
Sesuai surat no. 10/67/Kep.GBI/DPG/2008 tertanggal 16 Oktober 2008, Bank Jasa Arta resmi berganti nama menjadi PT Bank Syariah BRI pada tanggal 17 November 2008 dengan status berubah dari sistem konvensional ke syariah.
Baca Juga: Pengamat Duga Hengkangnya PP Muhammadiyah Imbas BSI Lebih Layani Korporasi Besar Ketimbang UKM
Tiga Bank Melebur