Belum Temukan Kasus KIPI Akibat Vaksin AstraZeneca di RI, Menkes: Kita yang Hidupnya Kena Matahari Jarang Terjangkit

Selasa, 21 Mei 2024 | 14:05 WIB
Belum Temukan Kasus KIPI Akibat Vaksin AstraZeneca di RI, Menkes: Kita yang Hidupnya Kena Matahari Jarang Terjangkit
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin hadir di Universtitas Pelita Harapan (UPH) untuk memberi kuliah umum saat UPH Fest. [Yandi Sofyan/Suara.com]
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, jika di Indonesia belum ditemukan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang ditimbulkan dari vaksi Covid-19 AstraZeneca.

Menurutnya, KIPI AstraZeneca hanya menjangkit negara-negara western country atau negara barat. KIPI tersebut yakni gangguan terhadap pembuluh darah.

Baca Juga:

Vaksin Covid-19 AstraZeneca Ditarik dari Seluruh Dunia

Hal itu dijelaskan Budi dalam Rapat bersama Komisi IX DPR RI di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (21/5/2024).

Ia awalnya menyampaikan, adanya KIPI yang disebabkan vaksin AstraZeneca sangat bergantung kepada genomicnya.

"TTS (KIPI) ini terjadinya di beberapa negara Inggris sama Australia yang tinggi. Kita belum teridentifikasi di negara-negara Amerika Selatan juga belum teridentifikasi. Ini ada rasionya," kata Budi.

Ia menyampaikan, vaksin AstraZeneca sendiri di Indonesia sudah tak dipakai sejak Oktober 2022 lalu. Untuk itu, di Indonesia sendiri belum ditemukan kasus KIPI.

Sementara, kata dia, jika dilihat dari sensitifitas populasi, negara yang terdampak KIPI Astrazeneca terjadi di negara barat seperti umumnya Eropa. Sementara Afrika, Amerika Latin, hingga Asia seperti Indonesia belum terdampak karena sering terkena sinar matahari.

Baca Juga: Pakar Minta Ada Kajian Lebih Dalam Terkait Efek Vaksin Covid-19 AstraZeneca

"Kalau kita liat analisia mana yang sensitif populasi atay racenya sukunya yang kena kipi TTS kita lihat banyak di Nordic country lebih banyak di western country kalau Asia, Africa, South America itu lebih jarang," katanya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI