Sebagai konseptor beberapa pidato politik Megawati, Prananda menunjukkan pandangan politiknya yang mendalam, seperti dalam pidato yang menyisipkan nasihat dari Kitab Bhagawad Gita, "karmanye vadhikaraste ma phaleshu kada chana" (kerjakan seluruh kewajibanmu dengan sungguh-sungguh tanpa menghitung untung-rugi). Pidato ini disampaikan pada pembukaan Kongres III PDI Perjuangan tahun 2010 dan mendapat banyak pujian.
Dalam internal PDIP, Prananda dikenal sebagai "kamus berjalan Soekarno" karena usahanya memastikan bahwa hasil rapat partai tidak menyimpang dari pemikiran Bung Karno.
Tugasnya sebagai Kepala Ruang Pengendali dan Analisa Situasi mencakup strategi partai, pengawasan keputusan kongres, dan persiapan kegiatan ketua umum. Prananda, yang sudah dua kali melaksanakan ibadah haji, melaporkan perkembangan internal partai langsung kepada ketua umum.
Prananda menjadi yatim saat masih dalam kandungan ibunya. Ayahnya, Letnan Satu (Penerbang) Soerindro Suparjo, meninggal dalam tugas.
Titisan Bung Karno
Sosoknya dianggap sebagai titisan Bung Karno, dan pemikirannya selalu dipengaruhi oleh gagasan sang kakek. Ia dikenal sebagai konseptor utama pidato Megawati, mampu menerjemahkan ideologi nasionalisme sesuai kebutuhan zaman, dan menjembatani gagasan kebangsaan dengan pragmatisme politik.
Sebagai tokoh di balik modernisasi partai, Prananda mengedepankan sains dan teknologi dalam politik. Situation Room yang dibangunnya telah mengubah cara kerja PDIP, menjadikannya sosok pembaharu sekaligus penjaga ideologi Marhaen.