Alam mengaku rasa kepercayaan yang dimiliki ayahnya jadi pelajaran penting dalam hidupnya. Terkait dengan bagaimana sulitnya seorang pemimpin untuk menaruh rasa kepercayaan kepada orang lain.
"Tapi bapak itu bisa menaruh kepercayaan sebegitu dalam kepada saya, kepada orang-orang yang beliau percaya untuk menjadi kepanjangan tangan, representasi beliau, itu yang dilakukan kepada saya bagiamana mendidik saya," terangnya.
"Saya diberikan kepercayaan penuh untuk mengambil keputusan dan juga mengeksekusi apa yang saya inginkan dan apa yang saya bisa lakukan dan itu berdampak pada bagaimana saya memiliki rasa tanggung jawab dan bagaimana saya bisa mengenali diri saya sendiri," imbuhnya.
Dia sebagai anak muda tak menampik mempunyai privilege atau keuntungan tersendiri. Hal itu yang kemudian coba disebarkan dengan merangkul lebih banyak lagi masyarakat terkhusus anak muda di Indonesia.
Termasuk dengan bertukar pengalaman satu sama lain dan saling belajar. Tidak hanya bertemu secara langsung tapi juga melalui berbagai plaform media sosialnya.
"Privilege kalau tidak diutilisasi untuk hal positif itu omong kosong. Privilege itu sangat penting untuk kita bisa demokratisasi dan kita bisa buka aksesnya ke orang banyak itu harusnya yang dilakukan oleh para orang-orang dengan privilege, termasuk saya juga," tandasnya.
"Harapannya itu bisa menjadi suatu pembelajaran juga bagi saya dan teman-teman karena pengalaman itu tidak hanya apa yang secara fisik kita lakukan tapi apa yang kita dapatkan juga dari orang lain," imbuhnya.