Gereja di Filipina Jadi Target Bom Kelompok Militan Islam, 4 Orang Tewas

Deutsche Welle Suara.Com
Selasa, 05 Desember 2023 | 12:14 WIB
Gereja di Filipina Jadi Target Bom Kelompok Militan Islam, 4 Orang Tewas
Empat orang tewas dan puluhan lainnya terluka akibat ledakan saat ibadah misa tengah berlangsung dalam sebuah kampus di Filipina
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Sementara itu, kelompok yang mengaku menamakan diri sebagai Negara Islam atau Islamic State (IS) mengaku bertanggung jawab atas serangan pada Minggu pagi tersebut. Hal tersebut disampaikan pihak IS lewat saluran Telegram, dengan mengatakan bahwa anggota mereka telah meledakkan bom di kampus tersebut.

Presiden Filipina mengutuk "teroris asing”

Pascakejadian itu, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. mengutuk keras serangan tersebut lewat akun X pribadinya. Dia menyebut insiden itu sebagai "tindakan yang tak masuk akal dan paling keji yang dilakukan oleh teroris asing. Ekstremis yang menggunakan kekerasan pada orang yang tidak bersalah akan selalu dianggap sebagai musuh bagi masyarakat kita."

Namun, Marcos sendiri tidak menjelaskan alasan dia menyalahkan militan asing terhadap pengeboman tersebut. Menteri Pertahanan Gilberto Teodoro Jr. juga menyebut ada indikasi kuat "unsur asing" dalam kejadian tersebut dalam konferensi pers, tetapi dia tidak menjelaskan lebih lanjut soal hal itu.

Kepala staf militer Jenderal Romeo Brawner Jr. mengatakan kalau serangan bom itu bisa diduga sebagai serangan balasan dari kelompok militan muslim akibat serangkaian pertempuran sebelumnya. "Kami tengah mencari alasannya dari berbagai sudut pandang," kata Brawner. "Bisa jadi serangan balasan."

Terkait hal itu, dia mengutip soal terbunuhnya 11 orang tersangka dari kelompok militan Islam dalam serangan udara militer dan tembakan artileri pada hari Jumat (01/12), di dekat kota Datu Hoffer, di Provinsi Maguindanao Selatan.

Kawasan selatan Filipina sejatinya merupakan daerah bagi minoritas muslim di dalam negara yang mayoritas penduduknya beragama Katolik. Selain itu, daerah ini juga menjadi lokasi pemberontakan separatis yang telah berlangsung selama puluhan tahun lamanya.

Kelompok pemberontak terbesar, Moro Islamic Liberation Front, telah menandatangani perjanjian damai pada tahun 2014 silam dengan pihak pemerintah, yang berarti menurunkan angka pertempuran yang telah terjadi selama puluhan tahun. Hanya saja, sejumlah kelompok yang lebih kecil menolak pakta perdamaian itu dan terus melancarkan aksi pengeboman hingga serangan lainnya sambil menghindari serangan dari pemerintah.

Baca Juga: Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr Positif Covid-19, Semua Agenda Dibuat Online

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI