"Semua negara, terutama yang memiliki hubungan dekat dengan Israel harus menggunakan segala pengaruh dan kemampuannya, untuk mendesak Israel menghentikan kekejamannya," pintanya.
Kondisi 3 Relawan Sebelum Israel Serang RS Indonesia
Sebelum perang dimulai, salah satu dari tiga relawan MER-C, Fikri Rofiul Haq sempat mengungkapkan bahwa dirinya dan temannya yang lain tidak akan mengungsi dan tetap di rumah sakit Indonesia.
Selama ini, Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara menjadi tempat relawan medis Indonesia Fikri Rofiul Haq bermarkas. Rumah Sakit Indonesia sendiri terletak di Beit Lahia, salah satu kawasan penghasil stroberi dengan kualitas terbaik.
Seharusnya, bulan Oktober-November adalah waktu petani panen stroberi dan sejumlah sayur mayur yang ditanaminya. Namun hal itu mustahil untuk dilakukan, karena saat ini ladang di Beit Lahia menjadi medan perang.
Sebelum Israel menyerang kawasan itu, para relawan dan masyarakat setempat mengaku sangat mudah menemukan sumber makanan. Namun akibat dari serangan tentara IDF yang tak kunjung berhenti, kawasan tersebut menjadi gersang dan berbahaya bagi siapapun terutama warga sipil Gaza.
Persediaan makanan untuk Rumah Sakit Indonesia biasanya bersumber dari daerah sekitar, kata Haq. Pada awal blokade dan serangan Israel terhadap Gaza, relawan MER-C bisa leluasa mengambil perbekalan di ambulans, yang disediakan oleh rumah sakit, yang diklaim lebih aman dibandingkan kendaraan sipil.
Haq mengungkapkan kepada Al Jazeera bahwa dia merasa sangat cemas akhir-akhir ini akibat serangan Israel yang semakin brutal.
Sekitar dua minggu lalu, Haq sempat melakukan perjalanan untuk mendapatkan pasokan medis bagi rumah sakit dari rumah-rumah warga sipil di sekitar distrik Al-Jalaa, di mana dia pasrah jika harus meninggal.
Baca Juga: Ini Tiga Relawan WNI yang Masih Hilang Kontak Usai Serangan Israel ke RS Indonesia di Gaza
Dia dan relawan lainnya dari Indonesia saat itu hanya berjarak sekitar 20 menit dari rumah sakit saat bom mulai dijatuhkan sekitar 200 meter (218 yard) jauhnya.