Brutal! Sebulan Agresi, Israel Jatuhkan 32 Ribu Ton Bahan Peledak Di Gaza, 40 Ribu Bangunan Hancur

Bangun Santoso Suara.Com
Kamis, 16 November 2023 | 08:45 WIB
Brutal! Sebulan Agresi, Israel Jatuhkan 32 Ribu Ton Bahan Peledak Di Gaza, 40 Ribu Bangunan Hancur
Asap hitam akibat serangan udara Israel memenuhi langit di desa Dayr Sharaf, Palestina, Kamis (2/11/2023). [Jaafar ASHTIYEH / AFP]
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Serangan brutal Israel di Jalur Gaza menyebabkan kerusakan parah tak terperi. Lebih dari 50 persen perumahan di Gaza hancur lebur, menurut pemerintah setempat pada Jumat pekan lalu.

Disitat dari kantor berita Anadolu, Kamis (16/11/2023), dalam sebuah pernyataan, kantor media pemerintah di Gaza mengatakan sekitar 40.000 unit rumah di daerah yang terkepung itu dihancurkan sepenuhnya oleh serangan tentara Israel.

Sekitar 32.000 ton bahan peledak dijatuhkan di Gaza sejak dimulainya serangan Israel terhadap Gaza pada 7 Oktober.

Perkiraan kerugian awal di sektor perumahan dan infrastruktur diperkirakan mencapai USD2 miliar, kata kantor media pemerintah.

Israel telah melancarkan serangan udara dan darat tanpa henti ke Jalur Gaza sejak serangan lintas batas oleh kelompok Palestina Hamas pada 7 Oktober.

Lebih dari 10.500 warga Palestina, termasuk 4.324 anak-anak dan 2.823 perempuan, tewas akibat serangan Israel. Sementara itu, jumlah korban tewas di Israel hampir 1.600 orang, menurut laporan resmi.

Israel Serbu Rumah Sakit

Di sisi lain, pasukan pertahanan Israel (IDF) masih menguasai Rumah Sakit Al Shifa sejak melakukan penyerbuan pada Rabu (15/11/2023). Bahkan pihak berwenang Israel melarang jenazah-jenazah yang tergeletak di RS Al Shifa untuk dimakamkan.

Menurut laporan BBC, ada sekitar 150 jenazah yang menumpuk dan membusuk di area rumah sakit terbesar di Gaza tersebut.

Baca Juga: Israel Tak Izinkan Pemakaman, Jenazah di RS Al Shifa Mulai Diincar Anjing-anjing Kelaparan

"Meninggalkan bau yang tidak sedap," kata Manajer Al Shifa, Dr Mohamed Abu Selmia.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI