"Ada apa ini? Ke mana, hati nurani pemimpin kita itu?" ungkapnya.
Ia pun menyimpulkan kalau hati nurani penguasa sudah tertutup oleh ganasnya kekuasaan.
"Jadi nafsu artinya kekuasaan itu menjadikan orang tertutup hati nuraninya," ucapnya.
Meski demikian, Omi mengingat pesan dari mendiang suaminya untuk tidak boleh menyerah begitu saja. Hal yang bisa dilakukan oleh masyarakat ialah terus menyuarakan ketidakadlan.
Ia juga mengaku masih menaruh harapan kepada masyarakat yang juga melihat nepotisme kekuasaan untuk sama-sama menyampaikan suaranya.
"Saya masih menaruh harapan dan optimisme kepada teman-teman kepada Anda-Anda sekalian, kepada rakyat Indonesia mari lah kita bersuara untuk mengawal kemajuan masyarakat Indonesia mencapai tujuannya sebagaimana adalah ditetapkan oleh para pendiri bangsa," tuturnya.