Ia pun menyinggung kekinian yang terjadi dalam sepak bola justru menjadi perebutan politik.
"Harapannya kalau ini ter-schedule dengan baik ke depan pasti akan muncul pemain nasional dari kampung. Karena dulu Bung Karno saat kita baru merdeka, (timnas) bisa masuk Piala Dunia itu. Tetapi sekarang kita tambah tua tidak pernah muncul-muncul karena bola jadi perebutan politik," ujarnya.
Di sisi lain, lanjut Komarudin, PDIP menyelenggarakan kegiatan dan pemecahan Rekor MURI ini dalam rangka memberi semangat kepada pemain Timnas U-17 dan peserta negara lainnya.
"Kami sebagai tuan rumah menyambut kedatangan mereka. Kita bangsa Indonesia ini sebenarnya sampai kampung punya pemain hanya soal waktu dan kesempatan," pungkasnya.
Untuk diketahui, pertandingan babak final turnamen Liga Kampung Soekarno Cup di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat, pada hari ini Jumat (3/11).
Tim yang akan bertanding adalah dari Sulawesi Selatan (Sulsel) vs Bali.
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, bakal capres 2024 Ganjar Pranowo, dan Ketua Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Arsjad Rasjid bersama elite partai pendukung direncanakan hadir menyaksikan pertandingan final tersebut.
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto sebelumnya mengatakan kehadiran Megawati, Ganjar, Arsjad, dan elite parpol pendukung merupakan bentuk kegembiraan merayakan keberhasilan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-17, yang akan digelar pada 10 November sampai 2 Desember 2023.
"Pak Ganjar, Pak Arsjad, dan tokoh dari partai pengusung kami undang sebagai pihak-pihak yang ikut bersama merayakan (Piala Dunia, red) U-17," kata Hasto dalam konferensi pers pelaksanaan turnamen Liga Kampung di Kompleks GBK, Jakarta Pusat, Kamis (2/11).
Baca Juga: Kecewa Terhadap Jokowi dan Gibran Membelot, Djarot PDIP: Padahal Ibu Mega Sangat Sayang Mereka
Tim yang menjadi juara dalam ajang Soekarno Cup Liga Kampung U-17 berhak mengangkat piala bergilir. Adapun tropi bergengsi tersebut hasil kontemplasi putra Megawati Soekarnoputri yang juga Ketua DPP PDIP, M.Prananda Prabowo, yang kemudian dijabarkan dan diwujudkan oleh pemahat Dolorosa Sinaga.